Zabibah and The King. Photo credit: Messynessychic.com

Zabibah and The King. Photo credit: Messynessychic.com

Mungkin saya ini ndeso, tapi saya memang baru tahu kalau alm. Saddam Husein menulis novel. Tidak hanya satu, tapi enam. Dan bagi saya ini lumayan aneh. Pemimpin negara menulis buku sudah biasa. Bahkan menggubah puisi atau mengarang lagu pun masih lumrah. Toh presiden-presiden kita melakukan hal yang sama. Tapi seorang diktator dengan image garang dari Timur Tengah menulis novel itu agak luar biasa, terutama karena novel yang ditulis salah satunya bergenre roman.

Husein rupanya lumayan produktif sebagai novelis. Sepanjang hidupnya, Hussein menulis 4 novel dan beberapa kumpulan puisi. Novel roman pertamanya, Zabibah dan Sang Raja terbit pada tahun 2000. Yang satu ini bergenre roman sejarah, dengan setting Tikrit, kota kelahiran Husein pada abad 7 atau 8.

Sepertinya novel ini dituturkan dalam bentuk alegori di mana Zabibah dan suaminya yang kejam merupakan metafora dari rakyat Irak yang ‘diperkosa’ hak-haknya oleh Amerika Serikat, dan kesatria yang menjadi tokoh utama merupakan cerminan dari Husein sang pembebas Irak dan Timur Tengah.

Nama Husein sendiri tidak pernah disebutkan sebagai penulisnya. Buku ini ditulis secara anonim. Namun mempertimbangkan fakta bahwa buku ini diizinkan terbit di Irak, bahkan sampai menjadi best-seller dalam semalam, diadaptasi menjadi drama panggung yang dilegalkan pemerintah pula, kemungkinan besar memang Husein sendiri yang menulisnya.

AMMAN, JORDAN - SEPTEMBER 10: Iraqi actors perform "Zabibah and the King," a play based on a novel written by Iraqi President Saddam Hussein, at the al-Hussein Culture Center September 10, 2002 in Amman, Jordan. The play is about a relationship between a king and a woman named Zabibah, symbolizing the "love affair" between Saddam and the Iraqi people. (Photo by Salah Malkawi/Getty Images)

AMMAN, JORDAN – SEPTEMBER 10: Iraqi actors perform “Zabibah and the King,” a play based on a novel written by Iraqi President Saddam Hussein, at the al-Hussein Culture Center September 10, 2002 in Amman, Jordan. The play is about a relationship between a king and a woman named Zabibah, symbolizing the “love affair” between Saddam and the Iraqi people. (Photo by Salah Malkawi/Getty Images)

Saya tidak bisa berkomentar banyak tentang isinya karena belum pernah membaca satu pun novel karya Saddam Husein. Saya cukup tertarik untuk mengetahui seperti apa isinya, meskipun harus saya akui mungkin objektivitas saya sebagai pembaca kurang bisa diandalkan. Bagaimanapun saya sudah terlalu sering dicekoki dengan berbagai berita miring tentang Saddam Husein. Sedikit banyak ada prasangka yang sudah tumbuh di dalam diri saya bahkan sebelum menyentuh bukunya.

Apalagi para reviewer kondang macam Daniel Kalder dari The Guardian memberikan kritik pedas terhadap buku ini.

“Strukturnya begitu buruk  dan membosankan, jelas-jelas memiliki aroma orisinalitas sang diktator,” cibirnya.

Jadi, seperti apa, ya, isinya Zabibah dan Sang Raja? Ada yang sudah pernah membaca buku ini? Setahu saya buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Advertisements

About tantri06

30 Years old daydreamer. Still trying to improve my bad writing skill and poor english.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s