“Pluviophile.”
“Apa itu?”
“Itu kamu. Orang yang merasakan kedamaian saat hujan.”

Episode Hujan.

Episode Hujan.

Judul:  Episode Hujan
Penulis: Lucia Priandarini
Bahasa: Indonesia
Format: paperback, 292 hal.
Penerbit: Grasindo (2016)
Genre: drama

Cerita

“Hujan membuatku merasa tidak sendiri. Rintik hujan membuatku sadar. Aku bukan satu-satunya orang yang jatuh, lalu pecah membentur batu dan aspal jalanan, atau larut bersama kelokan sungai.”

Bagi orang lain, pembicaraan tentang hujan barangkali terdengar konyol. Tapi, bagi Katya, bersama Banyu Mili, pembicaraan topik seremeh-temeh cuaca menjadi semenarik film box office.

Katya membenci hujan. Hujan deras turun pada perayaan ulang tahunnya yang kedelapan, membuat satu-satunya ulang tahun yang pernah dirayakannya berantakan karena tak ada seorang pun dari undangan yang datang. Hujan juga menjadi latar kepergian kakak kandungnya, Bara, yang hilang sejak usia sembilan. Dan, hujan turut mengantar kepergian ibunya, yang meninggal saat Katya memutuskan untuk menjadi seorang wartawan. Hujan pun turut mengiringi kehilangan Katya akan Jani, sosok gadis kecil yang menjadi muridnya di sebuah pusat kegiatan belajar mengajar di daerah pinggiran Jakarta, tempat anak-anak jalanan mengecap pendidikan.

Lalu, masih adakah alasan bagi Katya untuk tak menyalahkan hujan atas semua kehilangan? Katya tak pernah yakin, sampai ia bertemu dengan Banyu Mili, sosok yang diam-diam mengisi hatinya, yang membuatnya berani mengambil satu keputusan penting dalam hidupnya.

5 Points for:

check signStory

check signSetting

check signCharacterization

check signWriting style

check signMoral/interesting trivia

Level of Interest

My Review

Episode Hujan. Photo credit: Goodreads

Saya yakin banyak penikmat roman yang menyebut novel ini datar dan beralur lambat. Kalau romansa dan air mata yang kamu cari, maka pendapat itu memang benar.

Tapi buat kamu yang mencari bacaan tentang drama realistis, Episode Hujan layak masuk to-read shelf. Mungkin potongan dialog yang ditampilkan pada sampul dan sinopsis sedikit menyesatkan, mengesankan seolah-olah ini adalah novel tentang cinta yang terjalin dengan latar hujan (setidaknya saya perbikiran seperti itu saat membeli buku ini). Tapi bagi saya Episode Hujan adalah cerita tentang kehilangan. Mereka yang kehilangan seseorang dan jalan yang harus mereka tempuh untuk berdamai dengan kenyataan.

Just let it go. Photo credit: www.picturequotes.com

Just let it go.  Photo credit: Picturequotes.com

Ini adalah proses panjang yang harus dilalui Katya dan Banyu Mili (namanya keren, ya). Katya kehilangan kakaknya dan kedua orang tuanya. Banyu kehilangan sahabat sekaligus rekan kerja yang jadi panutannya. Dua orang (yang sudah bisa diduga bakal jadi soulmate di akhir cerita) ini lantas mendedikasikan diri untuk mencari jejak orang-orang yang hilang. Di situlah letak konflik utama Episode Hujan. Romansa antara Katya dan banyu cuma jadi sejumput gula dan garam di atas hidangan. Tetapi bukan berarti saya menyebut buku ini tak enak dibaca.

Menurut saya, Katya sang narator cerita adalah karakter dengan pemikiran yang sangat believable. Manusiawi bahkan. Meskipun idealismenya yang sangat tinggi kadang terasa berlebihan. Bukan apa-apa, saya terbiasa bertemu dengan orang-orang yang idealismenya rontok saat berhadapan dengan realitas. Saya sendiri juga begitu.

Satu poin lagi yang menjadikan Episode Hujan sedap dibaca adalah latar ceritanya, yaitu sebuah redaksi majalah. Antara redaksi majalah wanita yang berorientasi profit dan redaksi berita idealis yang masih menjunjung tinggi jurnalisme. Sebagai orang yang bekerja di media online, rasanya saya bisa mengerti perasaan dongkol dan gegar budaya yang dialami Katya 🙂 Meskipun beberapa bagian sedikit dilebih-lebihkan menurut saya.

Selamat datang di dunia para kuli keyboard. Photo credit: www.compsmag.com

Selamat datang di dunia para kuli keyboard.  Photo credit: Compsmag.com

Pokoknya, buat yang bosan dengan bacaan klise, buat yang ingin berkenalan dengan dunia media, sila masukkan buku ini ke wishlist.

Favorite quote:

“Memberikan hati kepada orang lain itu seperti berangkat perang tanpa membawa perisai.”

Advertisements

About tantri06

30 Years old daydreamer. Still trying to improve my bad writing skill and poor english.

2 responses »

  1. silananda says:

    akhirnya ngepost lagi mbaknyaa… 😀
    btw, suka quote di akhir tuh.. makjleb, hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s