Breakfast at Tiffany's. Photo by Serambi

Breakfast at Tiffany’s.    Photo by Serambi

Judul:  Breakfast at Tiffany’s
Penulis: Truman Capote
Bahasa: Indonesia
Format: paperback, 172 hal.
Penerbit: Serambi (2015)
Genre: fiksi, modern classics

Sinopsis

Novel indah ini berkisah tentang Holly Golightly, seorang wanita muda misterius berjiwa bebas yang menjadi pujaan kaum pria kelas atas New York. Orang-orang mengenalnya sebagai ratu pesta, simpanan jutawan, dan sekaligus kaki tangan Mafia. Namun, siapakah sesungguhnya dia? Apakah yang dicarinya? Cinta atau harta?

Dituturkan dari sudut pandang seorang pemuda yang mengaguminya, kisah ini menyelami manis getir liku-liku kehidupan seorang Holly Golightly, salah satu karakter paling legendaris di dunia sastra yang cantik dan menggemaskan, tapi juga memiliki banyak sisi kelam.

Sebagai potret kehidupan kelas atas New York pada masa lalu, novel ini menjadi karya klasik yang tak pernah lekang oleh masa.

1 Point for:

cross sign  Story

  Characterization

cross sign  Writing style

cross sign  Moral/interesting trivia

Level of Interest

My Review

Why Breakfast at Tiffany’s?

Sebelum masuk ke review, saya mau cerita soal judulnya dulu. Kenapa judulnya harus Sarapan di Tiffany’s (yang dulu sempat saya terjemahkan jadi Sarapan di Rumah si Tiffany :D)? Judul ini lumayan bikin penasaran. Setelah baca di pertengahan buku, baru ketahuan kalau ternyata Holly Golightly punya kebiasaan sarapan di toko perhiasan Tiffany’s untuk mendapatkan ketenangan. Itu pun cuma disebutkan sekali.

Balik ke review.

Sinopsis di bagian belakang buku menyebut Breakfast at Tiffany’s sebagai ‘novel indah’. Apalagi novel ini tergolong karya klasik yang paling banyak disebut. Yah, misalnya saja di lagunya Deep Blue Something yang terkenal di tahun 90-an itu.

Makanya itu saya cukup antusias waktu membeli buku ini. Dan setelah nyobain baca…saya putuskan novel ini tidak seluar biasa yang dibicarakan orang-orang.

Tapi harus saya akui kalau buku ini memang memikat. Dengan jalinan cerita yang sederhana, tanpa konflik greget saja novel ini berhasil membuat saya membacanya berulang-ulang.

Sebagian besar karena tokoh Holly Golightly yang slutty, menyebalkan, sekaligus menawan di saat yang sama.

Saya tidak menemukan sesuatu yang extraordinary dalam penulisan Capote (meskipun saya baru membaca satu karyanya saja, sehingga tidak bisa menilai kepenulisan Capote secara objektif). Tapi dia menggambarkan karakter Holly dengan baik. Gadis bitchy (umurnya baru 19 atau 20, tapi udah jadi high class hooker) ini ia lengkapi dengan kenaifan sekaligus sinisme yang kadang terasa cerdas.

Karakter-karakter lain di novel ini juga punya sinisme tersendiri seperti Holly. Bahkan ‘Aku’, si narator cerita juga lumayan ‘kejam’ saat menggambarkan Holly (Ini orang jelas tipe stalker banget. Orang normal mana yang mau-maunya kepoin tempat sampah tetangga setiap hari?)

Pokoknya, baca buku ini merupakan guilty pleasure buat saya. Cause I don’t really like it, but I read it many times.

About the movie

Di bagian belakang buku ini penerbit sengaja mencantumkan sejumlah trivia yang berkaitan dengan film Breakfast at Tiffany’s. Mulai dari peran Holly yang sebenarnya direncanakan Capote untuk Marilyn Monroe sampai influence yang dibawa dibawa karya ini dalam perkembangan pop culture.

Marilyn Monroe & Truman Capote. Photo by Thisismarilyn.com

Marilyn Monroe & Truman Capote.          Photo by Thisismarilyn.com

Saya sendiri belum pernah nonton adaptasi layar lebar Breakfast at Tiffany’s. Tapi jelaslah kalau film sukses ini punya pengaruh besar di tahun 50-60an.

Fashion Holly (atau lebih tepatnya selera fashion Audrey Hepburn) yang simple elegan dalam film ini juga menjadi perhatian utama para pecinta mode saat itu.

Audrey Hepburn dalam Breakfast at Tiffany's. Photo by dailyserving.com

Audrey Hepburn dalam Breakfast at Tiffany’s.        Photo by dailyserving.com

Audrey Hepburn dalam Breakfast ata Tiffany's. Photo by Theskinnystiletto.com

Audrey Hepburn dalam Breakfast at Tiffany’s.     Photo by Theskinnystiletto.com

www.popsugar.com

Audrey Hepburn dalam Breakfast at Tiffany’s.        Photo by Popsugar.com

Bahkan hingga saat ini little black dress yang dikenakan Holly pada awal film masih disebut sebagai salah satu gaun paling fenomenal dalam sejarah perfilman.

Breakfast at Tiffany's. Photo by hookedonhouses.net

Breakfast at Tiffany’s. Photo by hookedonhouses.net

Meskipun popularitasnya tak bisa menyamai gaun halter Marilyn Monroe.

Advertisements

About tantri06

29 years old rain lover, omnireader, and daydreamer. Still trying to improve my bad writing skill and poor english.

4 responses »

  1. Mide says:

    cewek-cewek macem gini klo jatohnya gak bodoh banget ya pinter banget sih ya. Gak ada yang setengah-setengah.

  2. silananda says:

    baca klasik emang sering bikin jidat berkerut sambil mikir “Apanya yang spesial sampe jadi klasik?”, kadang juga bosenin dengan narasi yang panjang-panjang, tapi selalu menarik buat dibaca berulang-ulang, hehe 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s