Iblis Menggugat Tuhan. Photo by Dastan Books

Iblis Menggugat Tuhan.        Photo by Dastan Books

Judul:  Iblis Menggugat Tuhan: The Madness of God
Penulis: Da’ud ibn Tamam ibn Ibrahim al-Shawni
Bahasa: Indonesia
Format: Paperback, 332 hal.
Penerbit: Dastan Books (2006)
Genre: filosofi, religi

Sinopsis

Kau bilang Adam berdosa gara-gara hasutanku? Kalau begitu, atas hasutan siapa aku melakukan dosa? Aku sebenarnya melakukan apa yang Dia perintahkan, dan aku sepenuhnya patuh pada keinginan Allah. Mau bagaimana lagi? Tak ada ruang yang luput dari kuasa-Nya. Aku bukanlah tuan bagi keinginanku sendiri.

Aku menyembah Allah selama 700 ribu tahun! Tak ada tempat tersisa di langit dan bumi di mana aku tak menyembah-Nya. Setiap hari aku berkata pada-Nya, “Ya Allah, anak keturunan Adam menolak-Mu, namun Engkau tetap bermurah hati dan meninggikan mereka. Tapi aku, yang mencintai dan memuja-Mu dengan pemujaan yang benar, Engkau buat menjadi hina dan buruk rupa.”

Lihatlah segala penderitaan dan kesengsaraan yang telah ditimpakan-Nya atas dunia ini. Lihatlah betapa Monster itu melakukan semuanya hanya untuk menghibur diri! Jika ada yang terlihat murni, dibuat-Nya ternoda! Jika ada yang manis, Dia buat masam! Jika ada yang bernilai, dibuat-Nya jadi sampah! Dia tak lebih dari sekadar Badut dan Pesulap Murahan, Pembohong Gila! Dan kegilaan-Nya masih terus membuatku lebih gila lagi!

The Madness of God menjadikan ketergelinciran Iblis, dan dakwaannya kepada Tuhan karena telah “menyesatkannya”, sebagai landasan bagi pertanyaan-pertanyaan mengenai kemungkinan kehendak-bebas di hadapan kemahakuasaan Tuhan. Pertanyaan yang berulang kali diajukan adalah: jika Tuhan Mahakuasa, dan tiada sesuatu pun yang dapat terjadi di luar kehendak-Nya, maka bagaimana mungkin makhluk dapat disalahkan karena dosa-dosanya?

Seiring dengan bergulirnya cerita, pembaca akan tenggelam dalam keyakinan tentang keesaan, kemahakuasaan, dan keadilan Tuhan. The Madness of God penting dibaca oleh para monoteis yang kritis. Shawni meramu adikaryanya ini dengan gayanya yang amat unik dan khas. Novel ini, terlepas dari judulnya yang provokatif, merupakan usaha Shawni dalam menyelaraskan keimanannya dengan akalnya

4 Points for:

  Story

  Characterization

  Writing style

  Moral/interesting trivia

Level of Interest

My Review

Buku ini tergolong berat untuk pembaca ber-IQ cekak seperti saya. Bisa dikategorikan sebagai filsafat, tapi saya rasa akan lebih tepat kalau disebut sebagai upaya untuk menjembatani agama (dalam hal ini Islam) dan logika.

Dituturkan melalui sudut pandang Iblis yang menuntut Tuhan karena telah mengutuknya hingga jatuh ke lembah dosa, sebagai pembaca iman dan rasionalitas kita akan dijungkirbalikkan. Habis-habisan. Kita bakal mempertanyakan hal yang sama dengan Iblis.

“Jika Tuhan telah berkehendak atas segala sesuatu, bukankah berarti semua kejahatan di muka bumi adalah bagian dari rencana besarnya? Bukankah dosa yang kita lakukan merupakan bagian dari takdirnya?”

Dan bagaimana Shawni mengajak kita untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini?

Rasanya bakal lebih afdhol kalau masing-masing pembaca menemukannya sendiri melalui halaman demi halaman The Madness of God. Yang jelas, pada akhirnya buku ini akan membuat kita tercerahkan, dengan cara yang brilian.

Entah kamu termasuk orang yang religius atau sekadar God believer yang masih sering mempertanyakan nilai agama seperti saya, pokoknya buku ini sangat wajib dibaca.

Advertisements

About tantri06

29 years old rain lover, omnireader, and daydreamer. Still trying to improve my bad writing skill and poor english.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s