17786536

Katarsis.   Photo by Goodreads

Judul: Katarsis
Penulis: Anastasia Aemilia
Bahasa: Indonesia
Format: paperback, 264  hal.
Penerbit:  Gramedia Pustaka Utama (2013)
Genre: thriller, misteri

Cerita

Ini sinopsis yang aku ambil dari Goodreads.

Tara Johandi, gadis berusia delapan belas tahun, menjadi satu-satunya saksi dalam perampokan tragis di rumah pamannya di Bandung. Ketika ditemukan dia disekap di dalam kotak perkakas kayu dalam kondisi syok berat. Polisi menduga pelakunya sepasang perampok yang sudah lama menjadi buronan. Tapi selama penyelidikan, satu demi satu petunjuk mulai menunjukkan keganjilan.

Sebagai psikiater, Alfons berusaha membantu Tara lepas dari traumanya. Meski dia tahu itu tidak mudah. Ada sesuatu dalam masa lalu Tara yang disembunyikan gadis itu dengan sangat rapat. Namun, sebelum hal itu terpecahkan, muncul Ello, pria teman masa kecil Tara yang mengusik usaha Alfons.

Dan bersamaan dengan kemunculan Ello, polisi dihadapkan dengan kasus pembunuhan berantai yang melibatkan kotak perkakas kayu seperti yang dipakai untuk menyekap Tara. Apakah Tara sesungguhnya hanya korban atau dia menyembunyikan jejak masa lalu yang kelam?

katarsis

Katarsis.    Photo by Goodreads

1 Point for:

The story

cross sign The characterization

cross sign The writing style

cross sign The moral/interesting trivia

Level of Interest

My Review

Covernya bagus. Dari gambar yang sederhana dan imut, ternyata jika diperhatikan lagi menampilkan unsur sadis. Ide ceritanya bagus. Bisa dikatakan original-lah. Dua tokoh utama yang karakternya anti-hero banget karena sama-sama psikopat.

Kematian di mana-mana, dan berdarah-darah pula. Lalu masih ada satu psikopat lagi yang mewarnai jalinan cerita. Tapi…

Udah cuma gitu doang? Terlepas dari ide cerita yang original tadi, aku nggak paham apa yang mau disampaikan si penulis sampai akhir cerita. Entah ending yang gantung ini menandakan adanya sekuel atau cuma mengiuti keinginan penulis yang pengen beda.

Plot holes everywhere

Sampai tulisan tamat mengakhiri kisah Tara dan Ello, kepalaku masih penuh dengan pertanyaan. Gara-gara segitu banyak plot holes yang tidak terjelaskan hingga akhir cerita. Kenapa Tara bisa mengembangkan sifat psycho bahkan sejak balita? Dari cara berpikirnya sejak masih anak-anak, aku nggak berpikir kalau dia itu terkena schizophrenia (kecuali setelah dia disekap dalam peti). Atau dia natural born psycho?

Kenapa Tara membenci namanya tanpa alasan? Kenapa dia benci keluarganya tanpa alasan? Menurutku ini nggak cocok sama sifat natural born psycho yang seharusnya ignorant.

Kenapa Ello harus membunuh orang kalau dia tidak bisa merasakan sakit? Karena dia iri orang lain bisa merasakan sakit dengan mudahnya dan karena itu dia ingin membuat mereka merasakan kesakitan? Kalau memang itu alasannya, seharusnya sekalian saja dijelaskan.

Photo by www.newscientist.com

Ilustrasi Congenital Insensitivity to Pain.  Photo by http://www.newscientist.com

Dan alasan apa pula yang membuat dia mengembangkan kepribadian sebagai psikopat? Ada trauma apa yang memicu kesadisannya? Karena menurutku ketidakmampuan merasakan rasa sakit saja tidak cukup menjadi alasan.

Minim setting

Selain plot holes yang bertebaran di mana-mana, satu kekurangan yang juga sangat terasa dari Katarsis adalah minimnya deskripsi latar tempat. Jadinya aku sulit mengikuti, scene ini berlangsung di mana. Suasananya seperti apa. Rasanya kurang dapat emosinya.

What is ‘katarsis’?

Katarsis itu apa, sih? Ini beberapa definisi yang aku ambil dari kamus online.

Kris penyucian diri yg membawa pembaruan rohani dan pelepasan dr ketegangan; 2 Psi cara pengobatan orang yg berpenyakit saraf dng membiarkannya menuangkan segala isi hatinya dng bebas; 3 Sas kelegaan emosional setelah mengalami ketegangan dan pertikaian batin akibat suatu lakuan dramatis.

Terus, karena definisi ini aku jadi bertanya-tanya lagi. Jadi pembuunuhan yang dilakukan Ello dan Tara itu sebagai suatu bentuk pelepasan atas trauma? Trauma yang mana?

Tapi salut-lah, buat keberanian Anastasia Aemilia mengangkat tokoh-tokoh yang anti-hero sebagai hero dan heroine. Semoga ke depannya penulis ini bisa mengemas tema serupa dengan lebih bagus.

Untuk sementara ini, sih, aku masih lebih suka baca thriller dan misteri ala V. Lestari dan S. Mara Gd. Meskipun keluaran jadul, tapi ceritanya bagus-bagus, lho. Bahkan beberapa di antaranya sudah pernah diangkat ke layar kaca.

Advertisements

About tantri06

30 Years old daydreamer. Still trying to improve my bad writing skill and poor english.

2 responses »

  1. okeyzz says:

    Ini yg membuatku ragu mau baca. Karena covernya setelah diperhatikan, kok serem ya *tutup mata

    Anw, apakah ini buku pertama yg ditulis penulis? Kalau iya, semoga karya berikutnya bisa lebih baik deh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s