Photo by ininikenayu.blogspot.com

Photo by ininikenayu.blogspot.com

Judul: Incest
Penulis: I Wayan Artika
Bahasa: Indonesia
Format: paperback, 268 hal.
Penerbit:
First published:
Genre: roman, sosio-kultural

Cerita

Di balik keindahan desa Jelungkap, tersembunyi adat kuno yang tabu namun tak terbantahkan. Warga yang melahirkan kembar buncing (laki-laki dan perempuan) dianggap membawa aib bagi seluruh desa. Si orang tua dikenakan serangkaian sangsi. Mulai dari didenda, diasingkan keluar desa, sampai diwajibkan menjalani ritual penyucian. Tak berhenti sampai di situ, kedua anaknya pun dipisahkan dan dibesarkan tanpa saling mengenal, untuk dipertemukan dan dinikahkan kembali setelah dewasa.

Inilah yang terjadi pada Gek Bulan Armani dan Putu Geo Antara. Lahir sebagai sepasang buncing, keduanya dipisahkan atas nama adat untuk kelak disatukan kembali.

Belasan tahun berlalu, adat pun meluntur. Wacana untuk menyatukan Geo dan Bulan terlupakan. Namun ketika warga Jelungkap telah menyadari kekeliruan dalam adat leluhur mereka, takdir justru berkata lain. Bulan dan Geo bertemu, jatuh cinta, dan bersatu.

Kebersamaan mereka kini membawa aib baru bagi Jelungkap. Hubungan inses yang terjadi karena kesalahan warga di masa lalu.

2 Points for:

check sign The story

cross signThe characterization

cross signThe writing style

check signThe moral/interesting trivia

Level of Interest

Pertama, sebenarnya Incest yang aku baca bukan yang ini, tapi terbitan yang lebih lama. Sampulnya lebih mewakili isinya. Sosok seorang pria dengan tangan terkekang, pemandangan pura di bagian belakang. Buku itu merupakan salah satu koleksi berharga, karena sekarang sudah susah dicari. Dapatnya juga kebetulan pas kakakku ubek-ubek bursa buku bekas (Yes, we love hunting old books).

My Review

Meskipun aku sudah lama sekali baca dan baca ulang buku ini (berkali-kali), rasanya masih segan buat menuliskan review. Pasalnya isi buku ini tergolong cukup berat. Dan aku tidak yakin sanggup menyamai kualitas review-review lain, misalnya saja punya si pak ketua RT-nya GRI Malang ini. Tapi yah, karena review itu personal dan nggak perlu dibanding-bandingkan dengan orang lain (menurutku begitu), jadi aku beranikan diri buat mengulas.

Here we go.

Jadi novel ini berkutat dengan adat kuno di mana kembar buncing adalah aib yang harus dipisahkan, namun harus disatukan kembali begitu dewasa. Tapi di balik adat ini, Incest menyuguhkan dua konflik besar yang saling berkaitan. Pertentangan antara nilai-nilai modern dan tradisi serta pertentangan antara kapitalisme dan ekonomi tradisional.

Konflik pertama diwujudkan dalam pergolakan batin warga Jelungkap yang dulu ikut memisahkan Geo dan Bulan. Adat yang dulu mereka junjung tinggi dan dikultuskan tanpa pertimbangan rasio, kini mencoreng wajah mereka dengan aib atas hubungan terlarang. Di sini kentara sekali adanya pergeseran nilai budaya, yang sebenarnya tidak selalu buruk.

Sementara konflik kedua tercermin dari perseteruan warga dengan sebuah perusahaan besar yang berniat merealisasikan mega proyek di desa tersebut. Dan proyek ini ditengarai akan melunturkan ciri tradisional Jelungkap, meskipun di sisi lain juga meningkatkan perekonomian desa tersebut. Seperti biasa, dua sisi mata uang di balik modernisasi yang selalu jadi sumber perselisihan.

Photo by balibesttrip.com

Photo by balibesttrip.com

Terlepas dari dua konflik tersebut, pada dasarnya Incest adalah kisah romansa dua anak manusia yang bertemu dalam belitan takdir yang tak berpihak. Cukup miris sekaligus mengharukan rasanya, menyaksikan sepasang saudara kembar ini menutup mata pada hubungan sedarah mereka atas nama cinta.

Aku tidak terlalu bermasalah dengan cara I Wayan Artika menyampaikan cerita. Aku suka bagaimana dia menggambarkan Jelungkap dan tempat-tempat indah yang dikunjungi Bulan serta Geo. Aku menikmati unsur budaya tradisional Bali yang sangat mendetail di buku ini. Aku juga menyukai caranya menjalin konflik. Tapi di bagian roman rasanya aku memang sedikit ‘muak’ dengan bahasa yang agak berbunga-bunga.

Di sini Artika cukup berani dalam membuat ending. Dan aku cukup puas, meskipun beberapa bab terakhir mendadak penuh adegan kiasan ala cerpen-cerpen Putu Wijaya. Aku sampai perlu baca beberapa kali buat memahami bagian akhir cerita (or maybe I’m just not that smart).

Kontroversi di balik Incest

Novel ini awalnya dipublikasikan sebagai cerber di Bali Post, tapi terpaksa dihentikan publikasinya karena dianggap menghina budaya Bali. Keberanian Artika mengangkat dan mengkritisi isu kembar buncing dengan latar desa kelahirannya (di edisi asli nama desanya adalah Batungsel, bukan Jelungkap) lantas membuatnya ‘diadili’ secara adat pada tanggal 25 Desember 2003. Ujung-ujungnya dia resmi diusir dari desa adat.

Kembar buncing, belahan jiwa yang dikandung dalam satu rahim

Photo by parentsindia.com

Photo by parentsindia.com

Meskipun novel Incest ini bukan kisah nyata, tapi adat pemisahan dan perkawinan kembar buncing yang diceritakan ini benar-benar ada. Tradisi ini sudah sangat tua. Dengar-dengar awalnya cuma manuver pihak kerajaan untuk melanggengkan pengkultusan raja dan para familinya. Jadi kalau kembar buncing muncul di kalangan istana, maka dianggap sebagai berkah. Sedangkan kalau muncul di masyarakat dianggap sial. Istilah resminya manak salah (kelahiran yang salah).

Tapi karena masyarakat sangat fanatik terhadap junjungan, akibatnya titah raja ini diterima mentah-menta, bahkan dilestarikan sampai berabad-abad. Tahun 80-an pemda Bali sudah mengeluarkan undang-undang larangan pengasingan ini. Tapi konon masih ada saja desa yang masih menjalankannya. Contohnya ini (aku nggak bisa menjamin kebenaran isi beritanya. Ini sekadar contoh saja).

Artikel kembar buncing I
Artikel kembar buncing II
Artikel kembar buncing III

Yang namanya tradisi memang sulit didobrak. Apalagi di tengah masyarakat yang memang menjunjung tinggi keluhuran adat seperti Bali. Tapi aku menganggap dengan berkurang drastisnya praktek pengasingan ini paling tidak sudah menandakan perubahan ke arah yang lebih baik.

Di Jawa aku juga pernah dengar konsep menikahkan kembar buncing seperti ini. Katanya kembar sepasang berarti jodoh yang sudah dipersatukan sejak dalam rahim, jadi sewaktu lahir ke dunia harus kembali dipersatukan. Konsep yang aneh ya? Tapi tradisi ini tampaknya juga sudah sangat luntur, karena aku belum pernah menyaksikan sendiri pasangan suami istri yang kembar buncing.

Advertisements

About tantri06

30 Years old daydreamer. Still trying to improve my bad writing skill and poor english.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s