13415865

Photo by Goodreads

Judul: Delirium (Delirium #1)
Penulis: Lauren Oliver
Bahasa: Indonesia
Format: paperback, 518 hal.
Penerbit:  Mizan Fantasi (2012)
First published: 2011
Genre: YA, dystopia, romance
Prequel: Annabel (Delirium #0.5)
Lanjutan: Hana (Delirium #1.5), Pandemonium (Delirium #2)

Cerita

Ini sinopsis yang aku ambil dari Goodreads.

Dunia yang dihuni Lena Haloway adalah dunia tanpa cinta.
Cinta adalah sebuah dosa besar.
Sastra dan puisi masuk dalam “Kompilasi Lengkap Kata-Kata dan Ide-Ide Berbahaya.”
Penikmat musik dijebloskan ke penjara.
Tertawa bahagia dianggap melanggar aturan.
Suami-istri, ibu-anak, kakak-adik, hanya sebuah ikatan tanpa kasih sayang.
Binatang. Orang yang jatuh cinta dianggap binatang.

Lena pun demikian, ketika dia jatuh cinta kepada Alex Sheates.
Mereka hidup dalam rasa takut hebat, dan hanya menunggu waktu hingga mereka menanggung hukuman.

3 Points for:

check sign The story

check signThe characterization

check signThe writing style

cross signThe moral/interesting trivia

Level of Interest

My Review

Pertama sekali, yang pingin aku komentari adalah sampulnya. Sayang sekali, sinopsis dan blurbs yang a-deliriumsudah mengundang orang untuk membaca justru dikemas dengan sampul buku yang, yah…sangat kurang menarik. Sebenarnya aku juga kurang suka sampul aslinya. Tapi menurutku masih lebih artistik. Untung sekuelnya diterbitkan dengan sampul asli.

Ceritanya sendiri model-model Twilight, tetapi dengan penggarapan karakter yang jauh lebih bagus. Baik Lena, Alex, maupun Hana yang bukan karakter utama punya kualitas kepribadian yang setidaknya bisa membuat pembaca bersimpati.

Setting cerita bisa dikatakan lebih matang daripada novel-novel dystopia yang pernah aku baca. Bahkan lebih detail daripada Battle Royale yang bagiku adalah rajanya dystopian fiction. Aku menghargai usaha Lauren Oliver dalam menciptakan sumber-sumber literatur fiktif yang jadi rujukan tentang bahayanya Amor Deliria Nervousa (yang disisipkan di pembukaan tiap bab). Dan kutipan-kutipan sumber literatur Amor Deliria Nervousa itu memang jadi daya tarik tersendiri setiap kali memasuki bab baru.

Gaya penulisan Lauren Oliver ini menurutku bagus. Dia cukup pintar bermain kata-kata. Kalimat-kalimat yang dia pakai (dari POV Lena yang masih remaja) lumayan puitis tanpa terdengar berlebihan.

Cuma ceritanya kurang ‘gelap’ untuk seleraku. Dan chemistry antara Lena dan Alex juga kurang mengena.  Makanya itu aku cukup sering skip halaman begitu sampai ke bagian tengah cerita.

Pesan moral yang bisa aku petik dari cerita sejauh ini juga tidak banyak. Sama seperti dystopia lain yang pernah aku baca, menjadikan aku makin sadar kalau terbuka terhadap berbagai ide (seabsurd apapun itu) bisa membuat kita lebih objektif dan kritis. Dan makin menyadarkan aku kalau mempertanyakan hal-hal tertentu dari doktrin yang ditanamkan ke benak kita sejak kecil itu sehat dan wajar, kok. Toh, bertanya berarti kita memperhatikan dan berusaha menemukan jawabannya. Bagiku itu lebih bijaksana daripada menerima mentah-mentah segala pemikiran yang disodorkan pada kita (yang akhirnya berujung pada fanatisme sempit atau malah keyakinan setengah matang yang mudah dipatahkan).

The Dystopian Nation

Romance ala Romeo & Juliet dengan latar dystopia. Ide ceritanya cukup bagus. Amerika Serikat di alternate timeline di mana cinta dianggap penyakit berbahaya bernama Amor Deliria Nervousa. Semua orang yang menunjukkan gejala jatuh cinta diperlakukan seperti pasien yang tengah terjangkit ebola, dan karenanya harus disembuhkan.

Ada serangkaian prosedur vaksinasi yang harus dijalani oleh setiap warga negara. Tujuannya adalah untuk memusnahkan semua rasa cinta yang ada dalam diri mereka. Dan karena cinta adalah emosi yang mendasari nyaris setiap tindakan manusia (hobi juga termasuk bentuk kecintaan, kan? Passion untuk menciptakan teknologi baru juga bentuk kecintaan, kan?), jadinya semua orang yang sudah divaksinasi berubah seperti robot tanpa emosi.

Semua aspek kehidupan warga ‘dibantu perencanaannya’ oleh negara. Mulai dari pekerjaan sampai pasangan hidup, semuanya direncanakan oleh negara.

Deskripsi pemerintah dalam novel dystopia seperti ini selalu mengingatkan aku pada pemerintahan totaliter ala Korea Utara dan China pra-ekonomi kapitalis. Di Korea Utara pekerjaan tiap warga juga ditentukan oleh negara.  Dan hak warga untuk mengekspresikan diri juga sangat dibatasi. Karena kebebasan berekspresi tentunya juga menjadi gerbang bagi pemikiran-pemikiran liberal dan moderat yang akhirnya bisa mengancam eksistensi pemerintahan itu sendiri.

Trivia

Dengar-dengar Delirium ini sempat mau dijadikan TV series dengan bintang Emma Roberts. Tapi sampai sekarang kelihatannya masih belum ada realisasi.

Advertisements

About tantri06

29 years old rain lover, omnireader, and daydreamer. Still trying to improve my bad writing skill and poor english.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s