rectoverso

Photo by Goodreads

Judul: Rectoverso
Penulis: Dee/Dewi Lestari
Bahasa: Indonesia
Format: hardcover, 148 hal.
Penerbit: Goodfaith (2008)
Genre: kumpulan cerita pendek, romance

Level of Interest

heart rate42

Karena ini adalah buku pengarang favoritku jadi mohon maaf kalau review-nya jadi super panjang dan terlalu personal 😀

Rectoverso: Dua Sisi Mata Uang

Rectoverso. Kata ini diperkenalkan oleh Dee dalam Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Dee yang menurutku masih dalam tahap belajar merangkai sains dan filosofi dalam sastra pada saat menulis buku itu menjelaskan rectoverso dalam bahasa yang susah dimengerti orang dengan IQ jongkok seperti aku. Padahal maknanya sederhana saja: dua sisi mata uang dalam segala hal. Di mana kedua sisi tersebut bertolak belakang tapi tak dapat dipisahkan. Saling melengkapi. Yang satu tak akan pernah ada tanpa keberadaan yang lain. Seperti ‘terang’ yang tak akan pernah terdefinisikan jika tak ada ‘gelap’ sebagai pembandingnya. Seperti halnya orang yang tidak akan bisa menyebut diri bahagia jika belum tahu apa itu susah.

Rectoverso yang dimaksud dalam buku ini jauh lebih sederhana lagi. Hibrida antara fiksi dalam tulisan dan fiksi dalam musik, kalau meminjam kata-kata Dee sendiri. 11 Kisah dalam buku ini disampaikan dalam bentuk cerpen dan lagu. Beberapa di antaranya dalam bahasa Inggris. Aku tidak mendengarkan lagu-lagunya (karena buku ini dipinjamkan tanpa CD musiknya). Cuma pernah dengar Firasat (salah satu lagu Indonesia dengan lirik terbaik, kalau menurutku) dan Malaikat Juga Tahu.

Tapi tanpa mendengarkan lagu-lagunya pun buku ini tetap mudah dinikmati.
Dari halaman pertama, di bagian tempat si pemilik buku menandai namanya, aku sudah jatuh cinta pada buku ini. Di tengah halaman tertulis ‘Sebelah sisi Rectoverso ini dimiliki oleh:…’. Covernya cantik, dominan hijau (my favorite color) dan kuning. Di dalamnya banyak foto dan ilustrasi.

Kebanyakan cerita dalam buku ini menurutku serupa dengan potongan adegan. Seperti satu scene yang diambil dari bagian awal, tengah, atau akhir sebuah film. Yang benar-benar seperti cerita utuh mungkin hanya Malaikat Juga Tahu dan Firasat. Gaya penulisan Dee di Rectoverso masih seindah biasa. Kalimat-kalimatnya nyaris berima, tapi sama sekali tidak terkesan gombal. Tapi jujur dari sebelas cerita di dalamnya, tidak semua mampu membuat aku terkesan. Malaikat Juga Tahu sepertinya adalah favorit semua pembaca. Dan menurutku ceritanya memang bagus. Yang menjadi favoritku adalah cerita-cerita ini:

Curhat Buat Sahabat

Tipikal cerita bertema friendzone. Lagunya diceritakan melalui POV seorang perempuan. Dia menceritakan tentang patah hatinya pada sahabatnya. Dia menyampaikan impiannya akan sebuah cinta yang sederhana, yang dia analogikan sebagai seseorang yang mau mengambilkan segelas air putih kapanpun dia butuh. Kemudian cerpennya diceritakan dari sudut pandang si sahabat, lelaki yang sedang mendengarkan curhatan galau si perempuan yang sudah lama dia cintai diam-diam. Si lelaki adalah sahabat sekaligus pecinta yang sangat berdedikasi. Jenis sahabat yang tak pernah absen muncul saat dibutuhkan, mau tengah malam atau pagi buta. Rasanya miris sekali membaca inner dialogue si pria yang makan hati menyaksikan sahabatnya patah hati dan tidak pernah menyadari perasaan si pria. Ini dialognya yang paling mengena:

Sesuatu dalam ruangan ini terlalu menyakitkan bagiku. Entah semburan angin dari mesin pendingin atau suara piano yang mengiris-iris kuping. Entah anggur ini terlalu tua bagi lidahku atau cinta ini terlalu tua bagi hatiku.

Sebotol anggur putih ada di depan matamu, tapi kamu tidak pernah tahu. Kamu terus menanti. Segelas air putih.

Photo by Wallpaperscraft.com

Photo by Wallpaperscraft.com

Segelas air putih dan sebotol anggur putih. Benar-benar tepat menggambarkan situasi di antara sepasang sahabat itu.

Si perempuan telah mencintai lelaki yang salah selama bertahun-tahun. Dan sekarang dalam patah hatinya dia cuma memelihara impian kecil tentang cinta yang biasa-biasa saja. Padahal selama ini ada si pria yang mencintainya tanpa batas dan tanpa syarat. Tapi perempuan itu tidak pernah tahu. Atau lebih tepatnya memilih untuk tidak tahu, karena si pria bukanlah yang dia cari.

Aku paling merasa relate dengan cerita ini, karena…yeah, I’d been there. I know how it feels. Dan mungkin aku sendiri juga pernah menempatkan orang lain dalam situasi yang dialami si pria ini. Situasi membingungkan, melibatkan berbagai emosi yang terjalin rumit.

Malaikat Juga Tahu

Tentang seorang pemuda autis yang jatuh cinta kepada seorang perempuan, tetapi perempuan itu malah berpacaran dengan adiknya. Kalimat yang dipakai Dee untuk menggambarkan cinta murni si pemuda yang dipanggil Abang ini juga menyentuh sekali.

Secerek air panas dan cucian berwarna seragam sudah resmi bergandengan dengan rutinitas lain: perempuan itu. Dan bagi Abang, rutinitas bukan sekedar hobi, melainkan eksistensi.

“Adiknya bisa cinta sama kamu, tapi kalau kalian putus, dia dengan gampang cari lagi. Tapi Abang tidak mungkin cari yang lain. Dia cinta sama kamu tanpa pilihan. Seumur hidupnya.”

Ini mengingatkan aku pada The Madness of Lord Ian MacKenzie, saat Ian yang asperger syndrome jatuh cinta pada Beth tapi tidak mampu memahami dan mengelola perasaannya sendiri.
Tapi yang paling menyentuh tentu saja cinta Bunda yang luar biasa kepada anaknya, Abang.

Cintanya adalah paket air mata, keringat, dan dedikasi untuk merangkai jutaan hal kecil agar dunia ini menjadi tempat yang indah dan masuk akal bagi seseorang. Bukan baginya. Cintanya tak punya cukup waktu untuk dirinya sendiri.
Tak perlu ada kompetisi di sini. Ia, dan juga malaikat, tahu siapa juaranya.

Selamat Ulang Tahun

539396

Photo by Goodfon.com

Lagunya bercerita tentang seseorang yang merasa menyesal, karena ia terlambat mengucapkan selamat ulang tahun pada kekasihnya. Sedangkan cerpennya menceritakan ucapan selamat yang terlambat itu dari sudut pandang si kekasih yang sedang berulangtahun. Dari penuturan si birthday boy/girl aku bisa melihat kalau dia adalah orang yang sinis (mungkin lelaki) dan kekasihnyalah yang romantis (mungkin perempuan). Tapi dia sudah begitu terbiasa dengan segala romantisme kekasihnya yang selama ini tak pernah lupa mengucapkan selamat, entah itu selamat Valentine, ulang tahun, atau hari jadi. Dan saat cerita berlangsung dia sedang sebal menanti ucapan yang terlambat beberapa jam itu. Memang cerita dan temanya biasa saja. Tapi aku suka karena kedua orang itu sedang berada dalam fase di mana mereka masih tergila-gila terhadap satu sama lain. Menurutku itu adalah tahap terindah dalam hubungan. Sayangnya tahap itu tidak pernah bertahan lama. Setelah tahap itu berlalu pada akhirnya akan ada satu pihak saja yang lebih mencintai. Dan kalau sudah begini…yah, bisa dibilang one step closer to the end of the relationship.

Hanya Isyarat

Ini juga bagus. Tentang seseorang dengan cinta bertepuk sebelah tangan.

Ia kembali menjadi sebentuk punggung yang sanggup kuhayati, yang kuisyarati halus melalui udara, langit, sinar bulan, atau gelembung bir.

Jadi intinya adalah orang yang memilih untuk mengagumi dari jauh. Mencintai tanpa perlu menyampaikannya. Kadang kita memang merasakan hal seperti ini, kan? Merasa lebih baik mencintai dalam diam, karena mengungkapkannya kadang justru membuat segalanya jadi runyam dan akhirnya kita justru kehilangan orang itu. Kadang lebih baik membiarkan segalanya tak pernah dimulai, karena jika tak bermula maka juga tak akan berakhir. Cinta yang pengecut memang. But it’s less painful.

Grow a Day Older

Kali ini bercerita tentang seorang perempuan yang berselingkuh dengan lelaki yang sudah memiliki kekasih. Si perempuan ini sendiri sudah berencana menikah dengan kekasihnya. Dia sangat mencintai selingkuhannya ini, tapi hubungan mereka jelas tak mungkin berlanjut. Dia ingin mengakhiri affair mereka tapi pada akhirnya dia tak mampu mengucapkan kata ‘putus’.

We still have have our bitter sides that we share from time to time, and that’s what I love the most about our connection. For me, a perfect chocolate bar should be bitter sweet, not all sweet, and certainly not all bitter, for then you lose all the fun. We’re like that dark chocolate bar where you can have four at once without getting jittery.

He had appeared in my night sky like a white dwarf, a star feeble in light but so dense that I was sucked into a gravity field where my normal self was either shattered or flattened. Within his orbit I was nothing but a flat noodle. It’s so hard to breathe. So hard to get out. And I don’t know how much longer I can keep this up.

And I realized how I was constantly swaying from one side to the other. I wanted to stop. I wanted to decide. But some stupid philosopher kept telling us to go with the flow, to drift with the river of life. What flow? This is not a flow. It’s a predictable swing that goes back and forth without ever moving elsewhere. We should’ve known better. Maybe we had, but pretended not to know because this chocolate bar was just too tasty to pass over (hal.73).

I grow a day older as a cosmic joker. This has been such a long long way to say ‘I don’t know what to do.’ Another day as a sentimental fool. Another sway, another swing.

I’d like to find the guy who invented the proverb ‘go with the flow’ and lead him to an ocean full of hungry sharks. And see how he would flow. I’d really like to know.

Aku tidak pernah menghadapi situasi seperti perempuan di cerpen ini (because I was a ‘full of dedication’ girlfriend that sometimes I hate myself for being so f***ing loyal. Hehehe.) Tapi sebagai pisces sejati aku juga menganut prinsip ‘go with the flow’. Seringkali aku mengambil keputusan secara impulsif. Just go with the flow and see where it will bring us. Tapi saat keadaan berubah menjadi buruk biasanya aku merutuki diri sendiri karena sudah mengikuti dorongan hati tanpa berpikir panjang. Jadi rasanya aku paham sekali perasaan si perempuan saat mengatakan dia ingin menemukan orang yang menciptakan istilah ‘go with the flow’, melemparkannya ke samudera penuh hiu lapar dan melihat sendiri bagaimana dia membiarkan dirinya mengikuti arus. Hahaha..Kadang kata kiasan memang bisa jadi sangat menyebalkan saat diterapkan dalam kehidupan nyata.

Cicak di Dinding

Cerpen ini menceritakan tentang seorang seniman fluorescent painting yang jatuh cinta pada kekasih sahabatnya.

Suatu hari saat pameran tunggalnya berlangsung, sahabatnya memperkenalkan seorang perempuan yang konon mengagumi lukisannya mati-matian. “Jatuh cinta pada pandangan pertama, kedua, dan seterusnya sampai mati,” perempuan itu dengan lucu dan polos mendeskripsikan kekaguman atas karya-karyanya. Lelaki itu mengulang kalimat persis sama dalam hati. Matanya ingin mengekalkan apa yang dia lihat, hatinya ingin mengkristalkan apa yang ia rasa. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama, kedua, dan seterusnya sampai mati.

Tak lama sahabatnya mengaku kalaui perempuan yang dikenalkannya tadi baru saja resmi ia pacari. Pengumuman itu seperti tombol set ulang yang menggagalkan seluruh rangkaian kejadian sebelumnya. Pelukis itu pun patah hati pada pandangan pertama, kedua, seterusnya, dan moga-moga, tidak perlu sampai mati.

Dia mendatangi rumah yang akan ditinggali sahabatnya dan gadis itu untuk membuatkan lukisan glow in the dark sebagai hadiah pernikahan bagi si gadis. Dibuatlah ratusan cicak glow in the dark di seluruh dinding ruangan. Sebelum pergi dia menyampaikan perasaannya kepada gadis itu sekaligus selamat tinggal.

“Kutitipkan mereka untuk menjaga kamu…mengagumi kamu.”

Dan pelukis itu pun pergi dari hidupnya. Sementara si gadis justru baru memulai cintanya kepada si pelukis detik itu juga.

Akalnya mencerna menit-menit terakhir yang telah mengobrak-abrik hatinya menjadi tempat asing.
Cicak-cicak di dinding. Diam-diam merayap. Hatinyalah nyamuk, yang…Hap! Selamanya tertangkap.

Isn’t it ironic? Aku membayangkan si pelukis telah terjebak dalam ribuan pertanyaan ‘what if’ dan ‘if only’ sejak ia mengetahui sahabatnya berpacaran dengan gadis itu. What if I met her earlier? If only I met her first. What if…If only…What if..If only... Dan saat akhirnya dia bisa mengikhlaskan cintanya, justru gadis itu yang memulai pertanyaan ‘what if’ dan ‘if only’nya sendiri. Cinta memang bisa terjadi dengan cara yang salah, dalam waktu yang benar-benar tak tepat.

Walaupun tidak semua ceritanya aku suka, tapi buku ini aku baca berkali-kali sampai sekarang. Aku tergoda buat menjadikan buku ini hak milikku. hahahha.. Karena si empunya buku, Mas Kodok kelihatannya juga tidak berminat meminta buku ini (ngarep :D). Padahal sudah setahun lebih buku ini ada di aku. Semoga boleh diakuisisi (akuisisi gratis tapinya). Hakakak.

Rectoverso: The Movie

rectoverso2

Photo by IMDB

Buku ini baru dibuat filmnya yang rilis pada tanggal 14 Februari 2013 lalu untuk menyambut Valentine’s Day. Tidak semua cerita diadaptasi ke film. Hanya Malaikat Juga Tahu (Sutradara – Marcella Zalianty) yang untuk versi filmnya sekali lagi diperankan oleh Lukman Sardi tapi kali ini didampingi Prisia Nasution, Firasat (Sutradara – Rachel Maryam) yang diperankan oleh Asmirandah dan Dwi Sasono, Cicak di Dinding (Sutradara – Cathy Sharon) dengan bintang Yama Carlos dan Sophia Latjuba, Curhat buat Sahabat (Sutradara – Olga Lydia), dan Hanya Isyarat (Sutradara – Happy Salma).

Aku cukup puas dengan film ini, karena kebanyakan yang diadaptasi adalah cerita kesukaanku dan ceritanya diperlebar serta dibuat sedikit lebih kompleks. Lagipula aku memang cukup menikmati menonton film-film pendek seperti New York I Love You, Paris Je T’aime, dan Love Actually.

Advertisements

About tantri06

29 years old rain lover, omnireader, and daydreamer. Still trying to improve my bad writing skill and poor english.

5 responses »

  1. astrid.lim says:

    Hmmm…baca reviewmu bikin aku pingin baca lagi buku ini. soalnya dulu waktu baca, kok kesan yang kudapat beneran beda. aku malah agak kecewa sama rectoverso ini, seperti membaca curhatan galau seorang dee yang waktu itu memang lagi disorot akibat kisah kehidupan probadinya. mungkin aku harus baca ulang dengan mood yang lebih netral :))

    • tantri06 says:

      Hehehe, aku waktu baca pertama kali juga nggak terkesan, kak. Setelah baca ulang setahun kemudian baru deh dapet feelingnya 😀 Coba aja baca lagi, kak.
      Hoo buku ini dibuat pas jaman2 Dee baru nikah sama si…entah siapa Gunawan itu ya?

  2. Sekutu Buku says:

    Suka bukunya, plusnya cuma satu mihil bgt…hiks
    Filmnya..hmmm…cuma suka beberapa judul saja.

  3. […] ini mengingatkan aku pada cerpen Curhat Buat Sahabat di Rectoverso. Dua orang yang duduk berhadapan di restoran. Si pria menyuarakan cinta terpendamnya kepada sang […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s