10-anak-neg

Photo by Goodreads

Judul: Ten Little Niggers-Sepuluh Anak Negro
Penulis: Agatha Christie
Bahasa: Indonesia
Format: paperback, 296 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2008) first published at 1939
Genre: misteri, thriller, suspense

Cerita

Sepuluh orang yang tidak saling mengenal diundang ke sebuah pulau terisolasi yang disebut Pulau Negro untuk berlibur. Kemudian sepuluh orang itu mengetahui kalau mereka dikumpulkan di sana untuk bertanggungjawab atas kejahatan di masa lalu yang dituduhkan kepada mereka. Sang algojo yang mengundang mereka keberadaannya masih tak diketahui. Dia memutuskan untuk menghukum mereka. Keesokan harinya sepuluh orang itu mendapatkan selembar kertas bertuliskan sajak Sepuluh Anak Negro. Kemudian mereka tewas satu per satu dengan cara yang sama seperti anak-anak negro dalam sajak tersebut. Mereka yang masih hidup mulai panik dan saling curiga.

4 Points for:

check signThe story

check signThe characterization

check signThe writing style

check signThe moral/interesting trivia

Level of Interest

heart rate52

My Review

Sepuluh orang dengan sepuluh dosa masing-masing. Semuanya dianggap bertanggungjawab atas kematian seseorang. Terkurung dalam sebuah pulau terisolasi dan mati satu per satu. Ada yang mati keracunan saat makan malam, ada yang kelebihan obat tidur, ada yang dibunuh dengan kapak, mati dengan gantung diri, dll, sesuai dengan urutan kematian dalam sajak Ten Little Niggers.

Pola yang sangat umum dalam cerita-cerita detektif. Pembaca digiring untuk menebak-nebak siapa di antara kesepuluh orang tersebut yang menjadi pembunuh sebenarnya.

Tapi bagaimana jika sepuluh orang tersebut mati dan tidak ada orang lain lagi di pulau tersebut? Siapa yang menjadi pelaku pembunuhan? Itulah yang menjadikan novel detektif tanpa detektif (yup, that’s the tagline on the cover) ini layak mendapat lima bintang.

Suasana tegang saat para tamu Pulau Negro yang masih hidup  saling curiga sangat terasa. Begitu juga saat mereka mati satu per satu. Tidak banyak lagi yang bisa aku ceritakan. Yang jelas novel ini tetap menegangkan dan tidak usang walaupun dibaca enam dekade setelah penerbitannya.

Ten Little Niggers: The Controversial Title

19698740 105097 16299

Buku ini diterbitkan dengan banyak judul. Dari judul aslinya Ten Little Niggers ke Ten Little Indians, Ten Little Soldiers, lalu berubah lagi menjadi And Then There Were None, kalimat terakhir dari sajak tersebut. Judul pertamanya dianggap kontroversial karena bagi sebagian orang disebut menyinggung orang kulit hitam. Di Indonesia sendiri terbit dengan judul asli, Ten Little Niggers yang diterjemahkan menjadi Sepuluh Anak Negro.

Ten Little Niggers: The Controversial Rhyme

Sajak anak-anak yang muncul dalam novel ini diadaptasi dari Ten Little Injuns yang diciptakan oleh  Septimus Winner pada 1868. Kemudian Frank J. Green menciptakan Ten Little Niggers pada tahun 1869. Sajak ini populer dalam pertunjukan-pertunjukan panggung di Inggris, kemudian populer di seluruh Eropa karena kemunculan novel karangan Christie.

Photo by museumvictoria.com.au

Photo by museumvictoria.com.au

Photo by museumvictoria.com.au

Photo by museumvictoria.com.au

Photo by museumvictoria.com.au

Photo by museumvictoria.com.au

382829_Large

Photo by Museumvictoria.com.au

Photo by museumvictoria.com.au

Photo by museumvictoria.com.au

Photo by museumvictoria.com.au

Photo by museumvictoria.com.au

Ten little nigger boys went out to dine;
One choked his little self and then there were Nine.
Nine little nigger boys sat up very late;
One overslept himself and then there were Eight.
Eight little nigger boys travelling in Devon;
One said he’d stay there and then there were Seven.
Seven little nigger boys chopping up sticks;
One chopped himself in halves and then there were Six.
Six little nigger boys playing with a hive;
A bumble bee stung one and then there were Five.
Five little nigger boys going in for law;
One got into Chancery and then there were Four.
Four little nigger boys going out to sea;
A red herring swallowed one and then there were Three.
Three little nigger boys walking in the Zoo;
A big bear hugged one and then there were Two.
Two little nigger boys sitting in the sun;
One got frizzled up and then there was One.
One little nigger boy left all alone;
He went out and hanged himself and then there were None.

Scary, isn’t it?

Belakangan ini sajak tersebut dipandang sebagai bentuk rasisme, terutama karena penggambaran kesepuluh anak negro di dalamnya yang terkesan mendiskreditkan orang kulit hitam. Sajak ini kabarnya sengaja disebarkan dan dipopulerkan oleh orang-orang Amerika yang tidak setuju dengan ide pembebasan budak kulit hitam.

Terdapat spekulasi kalau sajak ini memang dimaksudkan untuk mengindoktrinasi anak-anak dengan ide rasisme terhadap kaum kulit hitam (analisis terhadap unsur rasisme di dalamnya bisa dibaca di sini).

Advertisements

About tantri06

30 Years old daydreamer. Still trying to improve my bad writing skill and poor english.

3 responses »

  1. oh wow, aku suka analisa nursery rhyme ini 🙂
    tapi apa itu membuat tante christie sebagai orang rasis juga? :0

    • tantri06 says:

      Kayaknya sih apa yang kita anggap rasis bagi kebanyakan orang jaman dulu biasa aja. Jadi iya kemungkinan dia rasis, tapi nggak sadar dengan rasisme-nya. 😀

  2. Ananda Hafizh P. says:

    benar tuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s