Judul: The Madness of Lord Ian MacKenzie (Highland Pleasure #1)
Penulis: Jennifer Ashley
Bahasa: Inggris
Format: ebook, 320 hal.
Penerbit: Leisure Books (2009)
First published: 2009
Genre: Dewasa, historical romance
Sekuel: Lady Isabella’s Scandalous Marriage (Highland Pleasure #2)

Story

Meet the Mackenzie family
rich, powerful, dangerous, eccentric.
A lady couldn’t be seen with them without ruin.
Rumors surround them
of tragic violence, of their mistresses, of their dark appetites,
of scandals that set England and Scotland abuzz.

Ian, si bungsu dalam keluarga MacKenzie, menghabiskan masa mudanya di pengasingan. Semua orang setuju kalau Ian aneh, bahkan tak wajar. Ia juga terkenal sulit bergaul,  tampan, penilai kerajinan yang handal, dan penakluk wanita dengan caranya sendiri.

Beth Ackerley, seorang janda yang karena keberuntungan mewarisi kekayaan berjumlah cukup besar. Beth memutuskan mulai saat ini tak akan ada drama dalam hidupnya. Ia ingin menghabiskan hidupnya dengan tenang dan ia pikir menikah akan menjadi jalan pembuka untuk itu.

Lalu suatu hari Lord Ian MacKenzie datang kepadanya, memperingatkannya akan kebejatan sang calon suami,mencuri sebuah ciuman darinya, dan meminta Beth untuk menikahinya dengan caranya yang lain dari yang lain.

Beth tak mungkin berkata ‘iya’, meskipun hatinya sudah terlanjur tertawan Ian. Tapi Ian memutuskan ia menginginkan Beth dan akan mendapatkannya.

Bagaimana mungkin Beth tak jatuh ke dalam pesonanya? Dan bagaimana mungkin Beth tak patah hati ketika Ian berkata ia tak akan pernah mencintai Beth karena ia tak mampu jatuh cinta?

Karakter

Lord Ian MacKenzie

Pria muda tampan yang dikenal sebagai ‘pria gila’ oleh kalangan bangsawan karena keanehannya. Ian memiliki hubungan buruk dengan kakak tertuanya.

Mrs. Beth Ackerley

Janda muda dan lugu yang mewarisi kekayaan dari nyonya bangsawan yang dulu didampinginya. Beth yang juga sulit bergaul berusaha memahami keanehan Ian dan perlahan-lahan berhasil merebut hatinya.

My Ratings

4 poin untuk:

check signGood Story/Idea

check signGood writing style

check signWell-developed characters

check signAdditional information/message

My interest level:

heart rate52

My Review

Baguss banget…
Ini pertama kalinya baca historical romance dengan hero kayak Ian MacKenzie.

Pas baca buku ini aku baru paham kalau Ian tuh mirip kayak tokoh utamanya The Curious Incident of the Dog in the Night-Time karangannya Mark Haddon. Sama kayak Christopher, hero-nya novel itu,  dia paling susah kalau harus memahami hal-hal yang bersifat abstrak dan nggak pasti seperti norma, seni, estetika dan semacamnya.

Makanya itu Ian dan Christopher nggak bisa bohong, nggak bisa memahami reasoning-nya tata krama, nggak paham sama jokes, dan sulit bersosialisasi. Bagi mereka hal-hal seperti itu sangat rumit karena nggak bisa diukur dengan rasio. Tapi karena mereka nggak mampu memahami hal-hal tersebut, persepsi mereka terhadap fakta juga jadi lebih jernih. Karena itu Ian jadi punya ingatan fotografis, mengingat secara permanen segala hal yang dia lihat dan dengar tanpa bisa dicegah.

Dan yang paling jelas ya kecanggungan mereka dalam interaksi sosial itu. Selalu menghindari kontak mata. Nggak peka sama perasaan orang lain (mereka bahkan nggak bisa memahami perasaan mereka sendiri). Kalau mereka lagi nggak mau ngomong, mereka nggak bakal mau ngomong kalau nggak dipaksa. Mereka juga cerdas di bidang eksakta dan sains.

Atau bisa juga dibandingin sama Khan-nya Shahrukh Khan di My Name Is Khan. Khan juga penyandang Asperger Syndrome, dan sama kayak Ian, dia juga mampu mengalami ketertarikan terhadap lawan jenis. Dia cinta sekali sama istrinya Mandhira (Kajol). Bener-bener obsesif sampai ngejar Mandhira kemana-mana dan ngajakin nikah tiap beberapa menit. Marry me, Mandhira. Mandhira, marry me. Marry me. Lagi-lagi mirip sama Ian waktu ngejar Beth. Khan bahkan menunjukkan antusiasme tinggi terhadap seks sama kayak Ian. Hahahha. Menurutku portrayal-nya Shahrukh Khan atas penyandang Asperger Syndrome cukup bagus, kok. Kayaknya bolehlah kalau buat referensi sebelum baca The Madness of Lord Ian MacKenzie.

Di buku ini nggak dijelasin ‘kegilaan’nya Ian itu Asperger, soalnya ini kan historical romance era Victoria, ya. jadi waktu itu belum ada penelitian tentang sindrom ini. Mungkin perlakuan yang diterima penyandang Asperger syndrome waktu itu sama juga kayak Ian. Kasihan banget, deh.. Sampe sebel sama orang-orang di sekitar Ian yang nggak mengerti dia.

Nah soal ceritanya sendiri, pertama kali baca interaksi Ian & Beth aku nggak suka karena waktu Beth tanya kenapa Ian mau nikahin dia, Ian jawab “Because I want to bed you“..

Jadi inget Gideon Cross sama Christian Grey. Karena aku nggak suka sama kedua tokoh itu, jadinya langsung ilfil deh sama Ian. Tapi makin dibaca makin paham kalau Ian itu kayak Christopher (kemampuan belajarnya yang fotografis itu bahkan mirip Kazuo Kiriyama, sociopath-nya Battle Royale). Makin lama makin sweet, karena Ian obsessive banget sama Beth meskipun dia nggak tahu apa namanya emosi yang dia rasa itu.

Aku suka banget ucapan Ian, “Is this what love feels like? I don’t like it, my Beth. It hurts too much.” Ian dengan kesederhanaan pikirannya mencintai Beth dengan cara yang bahkan nggak dia pahami (Dia bahkan bisa berpikir jernih untuk melihat kalau Mac & Isabella saling mencintai). Dan Beth, perempuan yang hebat banget, karena di kehidupan nyata pasti sulit sekali berinteraksi dengan seseorang yang nggak memahami emosi. Tapi Beth bisa, bahkan mereka bisa connected secara emosional. Four thumbs up for Jennifer Ashley. Hehehe..

It’s a very very very beautiful historical romance, no, very very very beautiful romance novel..

Oiya, selain romance antara Ian dan Beth, buku ini juga diwarnai suspense kasus pembunuhan yang melibatkan Ian dan Hart, kakaknya. Cukup seru karena ini juga bikin kita tertarik sama sisi gelap Hart MacKenzie. terus jadi pingin baca ceritanya Hart deh.

Favorite Quotes

Ian to Beth : “We don’t fit in, you and me. We’re both oddities no one knows what to do with. But we fit together. We fit.”

Ian (about he and all of his brothers): “All of us are mad in some way. Mine is just obvious.”

Trivias

Gara-gara buku ini, aku jadi tahu artinya cunnilungus.. hahahaha. Tapi jelas bukan itu trivial but important informationnya.

Asperger Syndrome

Asperger syndrome termasuk salah satu spektrum autisme yang ditandai dengan kesulitan si penyandang dalam interaksi sosial karena kesulitan memahami komunikasi non-verbal dan adanya pola perilaku repetitif seperti misalnya merapikan baju berkali-kali, menyusun benda-benda di sekitarnya berkali-kali. Sindrom ini beda dengan spektrum autisme lainnya dalam hal preservassi linguistik dan perkembangan kognitif (artinya apa? Saya juga nggak terlalu ngeh). Penyandang sindrom ini biasanya memiliki gerak-gerik yang aneh atau canggung dan saat berbicara menggunakan pemilihan kata yang tidak biasa. Para penyandang sindrom ini juga menunjukkan empati yang rendah terhadap orang-orang di dekat mereka.

Photo by huttriverofnz.wordpress.com

Photo by huttriverofnz.wordpress.com

Intinya, Asperger syndrome membuat penyandangnya kesulitan memahami mekanisme interaksi sosial karena mereka tak dapat memahami hal-hal bersifat normatif, relatif, dan abstrak. Mereka akan kesulitan menilai sebuah karya seni, kapan harus berbicara-kapan harus diam, bagaimana harus berperilaku sesuai tatakrama, dll.

Mereka juga menunjukkan kecanggungan dalam gerak-geriknya dan dalam interaksi fisik. Mereka akan menghindari kontak mata, sering melakukan pembicaraan satu arah, kurang perhatian terhadap sekeliling (seperti Ian yang sering tak mempedulikan orang di sekitarnya jika ia sedang tak ingin). Lalu mereka juga cenderung histeris saat mengalami emosi yang intens seperti marah atau sedih, karena tak dapat memahami emosi-emosi tersebut dan otomatis tak mengerti bagaimana harus menanganinya.

Penyebab Asperger sindrom tak diketahui, tapi kemungkinan disebabkan oleh faktor genetis. Tak ada perawatan khusus untuk penyandangnya, tapi biasanya dilakukan terapi perilaku untuk memperbaiki kemampuan berkomunikasi dan kecanggungan. Ini karena banyak peneliti yang beranggapan bahwa Asperger syndrome hanya pergeseran perilaku pada seseorang atau bisa dikatakan keunikan seseorang dalam berinteraksi, bukan kelainan atau penyakit. (Setuju!) Karena kenyataannya penyandang sindrom ini masih bisa mempelajari sesuatu walaupun mungkin dengan cara yang beda dengan kebanyakan orang. Kondisi biologis mereka pun masih normal.

Advertisements

About tantri06

30 Years old daydreamer. Still trying to improve my bad writing skill and poor english.

5 responses »

  1. Lalaendut says:

    Ah jadi kepencut pengen baca bukunya

  2. Sakura L. Robin says:

    Hoo. keren! komplit banget review-nya 😀
    btw, kok tau Ian mengalami asperger syndrom? dijelasin banget kah di bukunya?
    makasih telah memberikan informasi baru! ahahaa

    • tantri06 says:

      Soalnya gejala-gejala yang ditunjukkin Ian tuh kayak Asperger banget. Kebanyakan yg baca buku ini juga nyimpulin Asperger sih. Meskipun ada juga yg nyimpulin disorder lain lagi. Aku lupa apa. Kalo g salah ADHD. Aku juga g tau itu apaan. hehehhe

  3. […] mengingatkan aku pada The Madness of Lord Ian MacKenzie, saat Ian yang asperger syndrome jatuh cinta pada Beth tapi tidak mampu memahami dan mengelola […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s