almostJudul: Almost
Penulis: Anne Elliot
Bahasa: Inggris
Format: ebook, 300 hal.
Penerbit:  – (2012)
First published: 2012
Genre: Young Adults, romance, realistic fiction

Story

Dalam suatu pesta yang tak dapat diingatnya dengan jelas, Jess Jordan hampir diperkosa.

Hampir. Nyaris. Tapi tak cukup untuk disebut pemerkosaan.

Tiga tahun kemudian, Jess hidup di balik tembok yang diciptakannya sendiri untuk menyembunyikan betapa hancurnya ia sejak kejadian itu. Jess bersikap seolah ia telah berhasil mengatasi traumanya. Ia berusaha meyakinkan keluarga dan terapisnya bahwa ia sudah lebih baik.

Hampir. Nyaris. Tapi tak cukup untuk disebut baik-baik saja.

Tapi orangtuanya tidak akan mengizinkan Jess melangkah menapaki masa depannya sendiri sampai ia berhasil membuktikan bahwa ia mampu menjalani kehidupan yang normal. Karena itulah Jess membayar Gray Porter untuk berpura-pura menjadi pacarnya. Gray setuju untuk memberikan Jess kehidupan social yang ‘normal’ sebagai dengan upah $8,000.

Jess tak menyangka bahwa ia bisa jatuh cinta kepada Gray setelah apa yang dialaminya tiga tahun lalu. Perhatian Gray yang tulus dan sikap pengertiannya membuat Jess luluh, membuatnya hampir lupa bahwa semua itu hanya bagian dari kontrak.

 Jess tak menyadari bahwa Gray memiliki motif lain selain uang dalam kesepakatan mereka. Gray memiliki rahasia tentang Jess dan alasan mengapa ia sangat ingin menjaga Jess.

Characters

Jess Jordan

Sejak percobaan pemerkosaan yang dialaminya, Jess mengalami trauma berat. Ia merasa sangat terganggu dengan sikap keluarganya yang overprotektif, karena hal itu tidak membuatnya merasa lebih baik. Tapi membuat Jess semakin meyakini bahwa ia sudah hancur dan tak punya kesempatan untuk sembuh. Jess bersikap dingin dan kasar kepada orang-orang di luar keluarganya untuk membentengi dirinya sendiri dari kehidupan sosial.

Gray Porter

Gray dihantui rasa bersalah karena ia pertolongannya kepada Jess saat usaha pemerkosaan itu berlangsung masih belum cukup. Ia merasa seolah mengkhianati Jess dengan tak membantunya lebih jauh. Karena itulah ia setuju untuk menjadi ‘pacar palsu’ Jess. Karena ia ingin melindungi Jess, berbuat lebih untuk Jess, dan terutama karena perasaan terpendamnya kepada Jess sejak tiga tahun lalu.

My Review

Level of Interest

heart rate52

Now let’s talk about the book.

Yak, lima hati penuh. Aku sangat-sangat-sangat terkesan dengan buku ini. Aku harus memberikan rating 5 karena:

check signGood story

check signGood characters development

check signGood writing style

check signGood message/information included

Sebelumnya maaf kalau review-ku kali ini sedikit tajam dan kelewat panjang karena detil-detil di luar resensi bukunya sendiri. Dan terlalu banyak bahasa Inggris karena kadang-kadang ada beberapa hal yang membuatku nggak nyaman untuk dituliskan dalam bahasa Indonesia. Aku berusaha keras untuk tetap obyektif dalam menilai buku ini. Tapi aku sendiri nggak yakin bisa mencegah tulisanku terdengar emosional. 🙂

Aku menyukai keseluruhan ceritanya. So sweet. So touching. Aku mulai cengeng begitu sampai ke bagian ketika Gray bertekad untuk mengaku kepada Jess tentang peranannya dalam peristiwa tiga tahun lalu. Dan mulai emosi ketika Jess bertengkar dengan orangtuanya setelah ia mengingat keseluruhan peristiwa itu.

Aku juga selalu menyukai ide tentang dua orang yang melalui tragedi bersama-sama (pinjam istilah sahabatku yang tergila-gila serial Mars-nya Vic Zhou & Barbie Hsu). Sepasang kekasih yang berjuang bersama untuk mengatasi trauma masa lalu dan berusaha saling menyembuhkan. Sebuah konsep yang…indah. Seperti Katniss-Peeta (The Hunger Games), Gabriel-Julianne (Gabriel’s Inferno), & Zhen Ling-Jing Luo (Mars).

Aku merasa gaya penceritaan dengan narasi dari sudut pandang kedua tokoh utama dalam suatu novel romance itu selalu berhasil. Narasi yang berganti-ganti di setiap bab membuat chemistry antara kedua tokohnya semakin terasa. Begitu juga dengan narasi Jess dan Gray. Rasanya menyentuh sekali membaca bagaimana mereka diam-diam saling tertarik tapi berusaha keras untuk menyingkirkan perasaan itu.

Aku menyukai dialog-dialog lucu antara Jess & Gray.

Jess is almost everything I feel ( not everything I am, because she’s smarter, prettier, more creative, and so much younger than I am). Setiap kali membaca narasi Jess, aku merasa seperti mengerti apa yang dia rasakan, tahu apa yang ia maksudkan, dan paham atas alasan di balik tindakan-tindakannya. Mungkin karena Anne Elliot sudah melakukan riset yang matang sebelum menciptakan karakter Jess.

Aku jatuh cinta kepada Gray sejak pertama kali Jess bercerita tentang dia  menolong gadis bernama Jenna yang lengannya patah dengan tenang dan sabar. Gray memang lovable. Entah kenapa ia mengingatkanku kepada Peeta Mellark. Dan itu artinya aku membayangkan Josh Hutcherson versi tinggi dengan dengan mata hijau emerald 🙂

Love everything about this book. So far, it’s the best YA romance I’ve ever read. Thanks to Putri who give me this awesome ebook.

 ‘Almost’ Doesn’t Mean ‘Better’

Kita semua selalu berpikir seperti ini. Padahal, tak ada yang namanya ‘masih untung’ kalau menyangkut trauma. Kita tak bisa menyalahkan seseorang bereaksi berlebihan karena hanya ‘hampir’ diperkosa. Semua orang punya kemampuan yang berbeda-beda dalam mengatasi guncangan emosional. Entah orang itu tegar atau lemah secara emosional, peristiwa seperti itu pasti akan membekas dalam jiwanya. Kita tak berhak menilai atau menghakimi karena kita tidak mengalaminya. Kita tak tahu seperti apa beratnya bagi si korban. Bahkan mungkin si korban sendiri tak tahu apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya.

This Rape Culture We Live In

Sebagian besar dari kita pernah mengalami pelecehan seksual; entah itu pelecehan secara verbal, fisik, ringan, atau berat. Kita semua mempunyai trauma masing-masing; dan kita hidup dalam suatu sistem sosial yang telah menyuburkan rape culture, kebudayaan yang melahirkan anggota-anggota masyarakat berjiwa sakit. Beberapa orang di antara mereka menjadi pelaku kejahatan seksual dan sisanya menjadi orang-orang berpandangan sempit yang menjadikan masyarakat sebagai lingkungan yang paling tidak suportif bagi para korban kejahatan seksual.

Ketika menegur seorang murid yang berseragam ketat, salah seorang guru di sekolahku dulu tak sengaja mengeluarkan komentar yang intinya menganggap bahwa si murid pantas diperkosa. Aku sendiri pernah berpikiran menghakimi ketika salah seorang murid di sekolahku menjadi korban pemerkosaan. Aku juga sering berpikiran sinis terhadap orang-orang yang trauma karena menganggap mental mereka lemah dan suka melebih-lebihkan masalah.

Setelah mencari tahu tentang seluk-beluk pemerkosaan, aku menyadari betapa piciknya pemikiranku sementara aku sendiri mengalami fobia karena pengalaman yang hampir sama. Padahal kejahatan seksual bisa terjadi kepada siapapun, lelaki atau perempuan, dimanapun, kapanpun, dan mengecilkan trauma yang mereka alami merupakan tindakan yang sangat tidak bijaksana. Tak ada seorangpun yang layak mengalami kejadian menyakitkan seperti itu.

The Rapes in Literatures

Ini adalah bentuk lain dari rape culture bentukan media massa yang membuatku sangat terkejut ketika mengetahuinya untuk pertama kali. Waktu iseng-iseng mencari manga bergenre josei smut, aku menemukan manga yang kelihatan menarik. Setelah membaca sinopsisnya, aku menemukan kalimat ‘this story includes consensual rape and forced seduction’. Aku bahkan belum pernah mendengar, apalagi tahu artinya consensual rape.

Aku mencoba membaca manga itu, dan hamper melotot ketika menemukan adegan pemerkosaan di dalamnya. Aku baru mengerti yang disebut consensual rape di sini adalah si pelaku meyakinkan (lebih tepatnya memanipulasi, menurutku) si korban bahwa ia sebenarnya ‘menikmati’ hal itu. Lalu ia meminta maaf atas ‘kekhilafan’nya dengan alasan cemburu dan terobsesi untuk memiliki si gadis yang sudah ia cintai diam-diam selama bertahun-tahun. Dan si korban pun memaafkannya karena menyadari sebagian dari dirinya memang ‘menikmati’ ‘forced seduction’ itu dan merasa tersentuh atas obsesi si pelaku kepadanya.  Lalu mereka berpacaran dan masalah pun selesai.

Terlihat sekali kalau si pelaku dimaklumi. Seolah-olah tindakan pemerkosaan itu bisa dipahami karena ia tak bisa menahan perasaan takut kehilangan, kerena pria tak bisa menahan nafsu, karena si korban ‘bereaksi’ meskipun tidak mengakuinya, karena si korban memprovokasi si pelaku dengan menyakiti hatinya, karena si pelaku sudah meminta maaf dan bersedia bertanggungjawab, dll. They’re all lame ass-excuses.

Photo abstract.desktopnexus.com

Photo abstract.desktopnexus.com

Bagaimana mungkin aku tidak merasa terganggu dengan cerita seperti itu? Dan parahnya lagi, manga bertema seperti ini sangat banyak. Aku penasaran apakah para mangaka ini tak pernah mengalami pelecehan seksual atau dia pria seksis yang berpikiran picik dan klise bahwa perempuan merasa tersanjung bila seorang lelaki ganteng terobsesi kepadanya atau ia adalah perempuan submisif dan masokis yang memang suka diperlakukan seperti itu.

Aku akan meminjam kata-kata Dr. Carl Lightman (Lie To Me TV series) untuk menyatakan betapa salah kaprah dan keterlaluannya manga-manga itu:

Pemerkosaan adalah kejahatan yang melibatkan kendali. Si pelaku berusaha merebut kendali dari diri korbannya melalui intimidasi fisik dan psikologis, dengan mendobrak privasi korbannya yang paling privat.

Bukankah jelas bahwa para pelaku pemerkosaan itu sebenarnya cuma terlalu pengecut untuk menghadapi korbannya dengan jantan, sehingga ia harus memilih cara seperti itu untuk membuat seseorang bertekuk lutut?

Tak ada yang namanya ‘suka sama suka’ kalau itu melibatkan paksaan, dalam bentuk apapun dan tak peduli bagaimana tubuh si korban ‘bereaksi’ atau bagaimana ia tak benar-benar menolak.

Photo by fadzayi.wordpress.com

Photo by fadzayi.wordpress.com

 “There Is No Consensual Rape. Rape Is Rape. There’s Nothing Consent About Being Forced.”

My conclusion is:

I won’t judge anymore, because I realized it’s not easy at all. Imagine how hard it is for them who experienced more than ‘almost’. You wouldn’t completely understand. I wouldn’t completely understand. But at least we can try to put ourselves in their shoes and rethink, starting from now. Don’t ever judge! Don’t ever say it’s ‘nothing’!

So, that’s it from me. Let all of us get wiser and get rid of this rape culture little by little, starts from ourselves. Good luck, everyone 🙂

Just a Little Bit of Information Inside the Book

Post Traumatic Stress Disorder

PTSD adalah gejala trauma yang diderita oleh seseorang setelah mengalami peristiwa yang sangat mengguncang emosinya. PTSD bisa dialami oleh korban kecelakaan, bencana alam, atau tindakan kriminal. Gejala ini banyak ditemui pada prajurit militer yang pernah dikirim dalam medan pertempuran atau korban perang.

Rape Trauma Syndrome

Aku kurang paham apakah secara teori rape-related PTSD yang diderita Jess sama dengan rape trauma syndrome. Tapi gejala-gejala yang ditunjukkan Jess serupa dengan para penderita RTS, jadi untuk sementara aku menyimpulkan bahwa rape-related PTSD sejenis dengan RTS.

RTS sering dikatakan sebagai bentuk kompleks PTSD. RTS memiliki fase yang lebih lama dan parah daripada PTSD. Tapi, pada dasarnya baik RTS maupun PTSD sama-sama bisa berakibat serius bagi penderitanya. Karena setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menghadapi trauma.

Acute Phase

Photo by www.nicehdwallpaper.com

Traumatized girl.  Photo by http://www.nicehdwallpaper.com

Trauma tahap akut terhadap pemerkosaan muncul setelah kejadian dan bertahan selama beberapa hari sampai beberapa minggu. Respon umum korban pada tahap ini dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu respon ekspresif dimana korban cenderung histeris, emosi terkendali dimana korban terlihat tanpa emosi, dan terguncang yang umumnya ditandai gejala disorientasi.

Outward Adjustment Phase

Photo by imgkid.com

Trumatized girl.   Photo by imgkid.com

Pada tahap ini, korban tampak baik-baik saja dan seperti melanjutkan hidup dengan normal, tapi sebenarnya masih menderita trauma yang parah. Korban biasanya tanpa sadar menerapkan perilaku maladaptif untuk menjauhkan dirinya dari depresi akut yang ia alami. Perilaku maladaptif yang muncul karena kegagalan dalam mengatasi trauma jangka panjang antara lain berusaha mengecilkan pemerkosaan yang dialami dan berpura-pura semuanya baik-baik saja, mendramatisir kejadian, memendam masalah dengan menolak membahasnya, menganalisis kejadian, atau lari dari masalah dengan berpindah tempat dan mengganti penampilan.

Menurutku Jess berada di tahap ini. Gejala yang ia tunjukkan; mimpi buruk, muntah, mudah terkejut dengan kontak fisik tiba-tiba, menarik diri dari kehidupan sosial, mood yang buruk hampir sepanjang waktu, fobia terhadap hal-hal tertentu yang berhubungan dengan kejadian, ingatan yang kabur mengenai detil peristiwa, dan flashback merupakan gejala yang umum ditemui pada penderita fase outward-adjustment.

Resolution Phase

Photo by quotes-kid.com

Traumatized girl.   Photo by quotes-kid.com

Pada tahap resolusi, korban mulai bisa menerima dengan lapang dada bahwa mereka tidak akan pernah bisa melupakan pemerkosaan yang mereka alami, tetapi tidak lagi menjadikan hal itu sebagai fokus utama dalam hidup mereka. Kesadaran seperti ini penting untuk membuat penderita RTS merasa lebih positif dan optimis dalam mengatasi trauma mereka. Dalam tahap ini biasanya korban menyadari tahap penyesuaian yang telah mereka lalui dan memutuskan untuk melanjutkan hidup dengan mencari solusi penyembuhan bagi trauma mereka.

Jess mulai memasuki tahap ini ketika ia mulai bercerita kepada orang lain di luar keluarga dan terapisnya, Michelle. Mempercayai orang lain untuk berbagi pengalaman tersebut adalah satu langkah maju untuk keluar dari tahap outward-adjustment. Dalam kasus Jess, langkah ini juga mulai membangkitkan memori tentang kejadian itu dan membuat traumanya memburuk. Mungkin ini yang disebut masa reorganisasi (correct me if I’m wrong, because I have no psychologist background at all). Tapi setelahnya Jess menjadi lebih kuat dan mimpi-mimpi buruknya berakhir. Mungkin mekanisme reorganisasi ini seperti membiarkan pecandu kesakitan dengan tidak memberinya obat untuk menyembuhkan kecanduannya secara perlahan-lahan.

Acquaintance Rape & Date Rape

Photo by aceofgeeks.blogspot.com

Rape victim.   Photo by aceofgeeks.blogspot.com

Acquaintance rape adalah pemerkosaan yang dilakukan oleh orang yang dikenal korban. Kejahatan seksual ini bisa dilakukan oleh anggota keluarga, teman sekolah, rekan kerja, kenalan baru, dll. Tindak pemerkosaan pun dilakukan di tempat yang akrab bagi korbannya seperti rumah, kampus, sekolah, dan pesta (seperti yang dialami Jess). Acquaintance rape cenderung dilakukan oleh satu pelaku dan tindak pemerkosaan biasanya berulang. Dalam banyak kasus (dengan pengecualian untuk marital rape), acquaintance rape melibatkan kekerasan fisik lebih sedikit dibandingkan dengan pemerkosaan oleh orang yang asing bagi korban. Para pelaku cenderung memanfaatkan alkohol, obat-obatan (biasa disebut date rape drug, lagi-lagi seperti yang dialami Jess), atau intimidasi psikologis untuk memanipulasi dan mendominasi korbannya. Walaupun begitu, korban acquaintance rape maupun stranger rape menunjukkan gejala trauma psikologis yang relatif sejenis.

Banyak korban acquaintance rape yang tidak memiliki pengetahuan mengenai pemerkosaan dan efeknya, sehingga beberapa di antara mereka tidak menganggapnya sebagai tindak pemerkosaan dan tidak menceritakannya kepada orang lain. Hal ini sering terjadi pada kasus date rape dimana korban memang intim secara fisik dengan pelaku (pacar atau teman kencan). Dalam banyak kasus, korban menyalahkan diri sendiri karena tidak melakukan perlawanan frontal saat kejadian. Padahal ini merupakan reaksi yang wajar karena sebagian besar manusia cenderung mengalami disorientasi saat mentalnya terguncang.

Berbeda dari yang sering kita saksikan di film atau sinetron, sebagian besar pelaku acquaintance rape memiliki perilaku normal atau bahkan mengesankan karena kondisi kejiwaan mereka tersembunyi di balik topeng sosial yang dikenakan sehari-hari. Mereka biasanya memiliki motivasi yang lebih kompleks daripada sekedar mencari kepuasan seksual dalam tindak pemerkosaan.

Rape Culture

Rape culture merupakan sistem budaya dimana pemerkosaan dan kejahatan seksual sering terjadi. Rape culture meliputi pola pikir, norma, perilaku, toleransi media massa maupun masyarakat terhadap pemerkosaan.

Contoh produk rape culture bisa kita temui dalam kehidupan sehari-hari, seperti lelucon kasar mengenai pemerkosaan seperti yang dilontarkan salah satu bakal calon hakim agung kita atau komedian-komedian Indonesia, penghakiman tak langsung terhadap korban (dengan menyalahkan si korban karena berpakaian kurang pantas, pulang malam, kurang mawas diri, dll atau dengan mengucilkannya karena dianggap aib), objektifikasi seksual (dalam bentuk komentar-komentar seksis atau pelecehan fisik), perlakuan yang bias gender (misalnya menerapkan berbagai aturan yang berlebihan seperti melarang wanita duduk mengangkang di atas motor untuk mencegah fitnah sementara tak ada aturan yang ditetapkan untuk para pria agar lebih menjaga sopan santun atau pikiran mereka) dan mengecilkan tindak pemerkosaan yang terjadi.

Iklan Victim of Beauty.  Photo by Turnerink.co.uk

Iklan Victim of Beauty.    Photo by Turnerink.co.uk

Iklan seksis D&G. Photo by Turnerink.co.uk

Iklan  D&G.     Photo by Turnerink.co.uk

Iklan seksis Valentino. Photo by Karanovic.org

Iklan Valentino.    Photo by Karanovic.org

Banyak mitos keliru mengenai pemerkosaan yang beredar di masyarakat sehingga membuat kesadaran publik mengenai acquaintance rape masih rendah. Hal ini juga menjadikan trauma yang diderita korban memburuk karena adanya trauma sekunder. Trauma sekunder atas tindak pemerkosaan (disebut juga secondary rape) disebabkan oleh reaksi lingkungan sekitar atau pihak berwajib yang tidak suportif atau malah menyalahkan korban secara tidak langsung, sehingga mereka merasa seolah-olah dilecehkan untuk kedua kalinya.

Advertisements

About tantri06

29 years old rain lover, omnireader, and daydreamer. Still trying to improve my bad writing skill and poor english.

4 responses »

  1. putripwu says:

    Wow… Riset kamu lengkap banget. Salut aku 🙂

    Gray Potter emang lovable tp gak menye-menye. Rasa bersalah yang dia rasakan sampai ngebuat dia mundur dari timnya padahal dia berbakat dan punya peluang untuk dapat beasiswa.

  2. […] baca Perfect Chemistry (Simone Elkeles), Almost (Anne Elliot), Gabriel’s Inferno (Sylvain Reynard), jujur aku jadi jenuh baca romance dengan formula […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s