Judul: Grimm’s Fairy Tales
Judul asli: Kinder-und Hausmärchen
Penulis: Jakob Ludwig Grimm & Wilhelm Karl Grimm
Bahasa: Inggris
Format: ebook
Penerbit:  Project Gutenberg (2008)
First published: 1823
Genre: Dongeng, cerita rakyat, kumpulan cerita

Jacob Grimm (1785-1863) and his brother Wilhelm (1786-1859) were philologists and folklorists. The brothers rediscovered a host of fairy tales, telling of princes and princesses in their castles, witches in their towers and forests, of giants and dwarfs, of fabulous animals and dark deeds. Together with the well-known tales of ‘Rapunzel’, ‘The Goose Girl’, Sleeping Beauty’, ‘Hansel and Gretel’ and ‘Snow White’, there are the darker tales such as ‘Death’s Messengers’ which deserve to be better known, and which will appeal not only to all who are interested in the history of folklore, but also to all those who simply love good story-telling.

Level of Interest

My Review

Buku yang berjudul asli Children’s and Household Tales ini adalah kompilasi dongeng yang dikumpulkan oleh Jakob Grimm dari penduduk Jerman. Wilhelm Grimm merevisi cerita-cerita tersebut sebelum dipublikasikan agar isi dan pesan moralnya lebih sesuai untuk konsumsi anak-anak.

Grimm bersaudara. Photo by en.wikipedia.org

Grimm bersaudara.   Photo by en.wikipedia.org

Dalam buku itu terdapat sekitar 200 cerita, di antaranya versi awal dongeng-dongeng terkenal seperti Snow White, Rapunzel, Hansel & Gretel, Para Kurcaci & Si Pembuat Sepatu, Para Pemusik Kota Bremen, Thumbling (Inggris: Tom Thumb), dll.

Berbeda dengan dongeng ala Disney dan Barbie yang lebih kita kenal , dongeng-dongeng yang ditulis ulang oleh Grimm pada abad XIX ini memiliki plot yang sedikit berbeda. Dalam Little Briar Rose (Inggris: Sleeping Beauty) sang pangeran tidak bertarung dengan penyhir jahat untuk membangunkan seluruh istana. Sedangkan dalam Snow White, sang putri bukan terbangun karena ciuman pangeran, tetapi karena apel beracun yang tersangkut di tenggorokannya terlepas saat para pengawal menggotong peti kaca tempatnya berbaring menuju istana sang pangeran.

Snow white in the glass coffin. Photo by rhinestonearmadillo.typepad.com

Snow white in the glass coffin.   Photo by rhinestonearmadillo.typepad.com

Yang membuatku terkejut, ternyata dongeng-dongeng versi Grimm bersaudara ini juga terkesan lebih gelap sehingga rasanya kurang tepat jika dijadikan cerita pengantar tidur untuk anak-anak. Dalam cerita Aschenputtel (Inggris: Cinderella), kedua saudara tiri yang jahat memotong tumit mereka agar bisa mengenakan sepatu emas yang dibawa Pangeran. Tetapi Pangeran segera menyadari tipuan ini begitu kaki mereka mulai mengalirkan darah dalam perjalanan menuju istana. Kemudian pada akhir cerita kedua saudara tiri Aschenputtel menjadi buta karena mata mereka dipatuk burung-burung merpati.

Aschenputtel. Photo by Tvspielfilm.de

Aschenputtel. Photo by Tvspielfilm.de

Cerita-cerita lain dalam buku ini pun menampilkan unsur kekejaman yang sama. Sebagai contoh kuda sahabat sang putri dalam Goose Girl yang dipancung, para peserta sayembara dalam The Shoes that were Danced to Pieces (Inggris: The Twelve Dancing Princesses), yang dihukum mati karena gagal menyelidiki penyebab rusaknya sepatu dua belas putri sang Raja, dan para perampok dalam The Robber Bridegroom yang suka memutilasi dan memakan gadis-gadis.

Menurut pendapatku pribadi, kesadisan yang bertebaran di sepanjang buku ini mungkin disebabkan oleh konsep ‘kejahatan harus dibayar dengan nyawa’ yang sampai beberapa abad lalu masih diyakini masyarakat luas. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya eksekusi dengan hukuman gantung, guillotine, atau peracunan dalam sejarah di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Dan semua itu karena kejahatan yang pada zaman modern ini diganjar dengan hukuman yang jauh lebih ringan.

Sebagai contoh, Ratu Anne Boleyn dari Inggris dipancung atas tuduhan incest yang tidak terbukti kebenarannya. Perempuan-perempuan Timur Tengah pada zaman dahulu dibunuh oleh anggota keluarga mereka karena dianggap mempermalukan keluarga (Hal ini kadang-kadang masih terjadi sampai sekarang, kan?).

Satu hal lagi yang menarik perhatianku dari buku ini adalah cerita Rapunzel. Menurut versi Grimm, setelah terpisah dari pangeran karena campur tangan si jahat Dame Gothel, Rapunzel melahirkan sepasang bayi kembar.

Rapunzel in Tangled.  Photo by www.popsugar.com

Rapunzel in Tangled.    Photo by http://www.popsugar.com

Bahkan pada edisi pertama Children’s and Household Tales dikisahkan Dame Gothel mengetahui pertemuan rahasia Rapunzel dan pangeran ketika Rapunzel dengan polosnya bertanya mengapa gaunnya terasa sesak di bagian perut. Bukankah ini berarti Rapunzel mengandung sebelum menikah?

Trivias

Tanaman Rapunzel

Dalam cerita, nama Rapunzel diambil dari nama sejenis sayuran yang dicuri ayahnya dari kebun Dame Gothel demi memenuhi keinginan si ibu yang sedang ngidam. Kemungkinan besar tumbuhan yang dimaksud adalah Campanula rapunculus atau rampion bellflower. Tanaman yang akar dan daunnya bisa dimakan ini di Jerman disebut Rapunzel-Glockenblume.

Bunga Campanula rapunculus.  Photo by Cruydthoeck.nl

Bunga Campanula rapunculus.   Photo by Cruydthoeck.nl

Daun dan akar Campanula rapunculus. Photo by Whatabloom.com

Daun & akar Campanula rapunculus.   Photo by Whatabloom.com

Daun dan akar Campanula rapunculus.  Photo by stefanoeantonello.blogspot.com

Daun Campanula rapunculus.  Photo by stefanoeantonello.blogspot.com

The real Snow White

Sebuah analisis mengatakan  bahwa cerita Snow White terinspirasi dari kisah hidup Maria Sophia Margaretha von Erthal. Gadis yang hidup setengah abad sebelum cerita Snow White pertama kali dipublikasikan ini juga seorang bangsawan piatu.

Maria Sophia Margaretha von Erthal. Photo by www.cuantarazon.com

Maria Sophia Margaretha von Erthal.   Photo by http://www.cuantarazon.com

Setelah ibunya meninggal, ayah Maria Sophia menikahi Claudia Elisabeth von Reichenstein. Claudia Elisabeth dikenal sebagai wanita yang suka mengeksploitasi harta dan kekuasaan keluarga suami barunya demi kepentingan anak-anak kandungnya.

Ayah Maria Sophia merupakan direktur dari Lohr Kurmainzische Spiegelmanufaktur di daerah Lohr am Main, pabrik produsen cermin antik yang terkenal. Konon, ayah Maria Sophia pernah menghadiahkan sebuah cermin antik pada ibu tirinya. Cermin itu masih bisa dilihat di Spessart Museum yang dulunya merupakan Lohr Castle, tempat tinggal keluarga von Erthal.

Lohr am Main. Photo by Awesomestories.com

Lohr am Main.   Photo by Awesomestories.com

Spessart Museum.  Photo by Seereisenmagazin.de

Spessart Museum.   Photo by Seereisenmagazin.de

Cermin Claudia. Photo by Cuckoo4design.com

Cermin Claudia Elisabeth von Reichenstein. Photo by Cuckoo4design.com

Selain itu, tak jauh dari Lohr am Main terdapat bekas pertambangan bijih besi yang para penambangnya bertubuh kerdil akibat gizi buruk sejak kecil.

Advertisements

About tantri06

29 years old rain lover, omnireader, and daydreamer. Still trying to improve my bad writing skill and poor english.

13 responses »

  1. fingerprintale says:

    belum abis baca buku ini sampai sekarang 😛

  2. smua cerita nya menyeramkan se..ka..li..
    aq jdi tkut

  3. That’s why drives have a tendency to bunch up at a tiny over 550MB/s for sequential reads and writes.

  4. Rama Wardhana says:

    Waah.. ternyata gitu cerita sebenernya ya.

  5. Waah.. ternyata gitu ya cerita sebenernya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s