Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 – Nostalgia Masa Remaja Anak-anak 90-an

“Milea. Kamu cantik. Tapi, aku belum mencintaimu. Nggak tahu kalau sore. Tunggu aja.”

“Pemberitahuan: Sejak sore kemaren, aku sudah mencintaimu – Dilan!”

Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Judul: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 (Dilan #1)
Penulis: Pidi Baiq
Bahasa: Indonesia
Format: paperback, 332 hal.
Penerbit: Pastel Books (Mizan Group) (2009)
Genre: fiksi, romance, teenlit

Cerita

Tentang nostalgia cinta monyet zaman SMA Milea dengan seorang cowok ‘ajaib’ bernama Dilan. Dilan adalah pemuda bandel, sering bolos, dan suka berkawan dengan anak-anak berandal.

Tetapi dia selalu memperlakukan Milea seperti putri. Tetapi perhatian-perhatian manisnya yang super aneh itu bisa bikin Milea penasaran, kangen, dan naksir.

Tapi Milea masih punya pacar di Jakarta. Masih ada Kang Adi yang berharap kepadanya. Masih ada Susi yang nggak rela kalau Dilan dekat sama cewek lain.

1 Point for:

Story

check signSetting

Characterization

Writing style

Moral/interesting trivia

Level of Interest

Bagi saya, baca buku ini sama menyenangkannya dengan baca Sebuah Makhluk Mungil (Katyusha), Jomblo (Adhitya Mulya), dan 5 cm (Donny Dhirgantoro). Soalnya, buku ini ringan, lucu, dan bikin suasana hati enak setelah membacanya. Tapi jangan mengharapkan bahasa nyastra nan apik saat membaca buku ini. Kebanyakan kalimat langsung di buku ini justru nggak enak dibaca, setidaknya menurut saya. Misalnya ini.

“Kalau dimarah, nanti kamu jadi kasihan sama aku.”
“Ketawa jangan?”
“Pengen ya, ke Dilan?”

Ceritanya bahkan lebih simpel dari teenlit Indonesia yang kata saya kayak sinetron. Tentang Milea, cewek cantik, pintar, populer anak tentara yang baru pindah ke Bandung. Hari pertama di sekolah baru dia ketemu seorang cowok ajaib bernama Dilan. Baru tanya nama, tahu-tahu Dilan meramal mereka bakal ketemu lagi di kantin. Setelah Milea nggak mampir kantin, ramalannya diralat lagi. Lalu Dilan kirim undangan buat Milea, isinya ajakan buat masuk sekolah. Selang beberapa hari, Dilan datang ke rumah, menawarkan menu baru di kantin. Saat Milea ulang tahun, Dilan menghadiahkan TTS yang sudah habis habis diisi. Katanya dia nggak mau Milea pusing mikir jawaban TTS. Waktu Milea nggak enak badan, Dilan datang membawakan bibi tukang pijat.

Dilan ini terkenal bandel, sering bolos, dan suka bikin onar. Tapi rupanya si Dilan juga jago nyepik. Meskipun sepikannya ‘krik-krik’. Bisa ditebaklah, berkat sepikan Dilan yang ‘krik-krik’ tapi persisten itu, Milea jadi sebel, lama-lama penasaran, dan berangsur jadi demen. Sesederhana itu, kok, ceritanya.

Dilan Series

Dilan Series

Kalaupun ada sedikit bumbu drama, paling cuma adegan berantem Milea sama fansnya Dilan, sama pacar lama yang nggak terima diputusin, atau ngambek-ngambeknya Milea saat Dilan mau berangkat tawuran. Kadang-kadang saya juga mangkel sama sifat demanding Milea. Yang seperti ini, lho yang bikin saya males. Kesannya kok, sepihak sekali. Minta dimengerti tetapi nggak yakin juga sudah mengusahakan sesuatu agar pasangannya bisa mengerti atau tidak.

“Aku ingin pacaran dengan orang yang dia tahu hal yang aku sukai tanpa perlu kuberitahu, yang membuktikan kepadaku bahwa cinta itu ada tetapi bukan oleh apa yang dikatakannya melainkan oleh sikap dan perbuatannya.”

Tapi dari unsur komedinya bolehlah. Dialog-dialognya Dilan yang mblarah ini pasti bikin siapapun ketawa. Mungkin metode sepiknya boleh juga ditiru para cowok. Barangkali bisa buat menggaet cewek idola di sekolah atau kampus (anak zaman sekarang masih nyebut idola? Maklum, saya SMA-nya udah belasan tahun lalu).

Ada unsur nostalgianya juga buat generasi lawas seperti saya. Yah, meskipun di setting novel ini, 1990, saya masih belum TK. Tapi ada banyak kesamaan antara pergaulan anak muda di zaman itu dengan masa-masa saya sekolah. Terutama soal tawur-tawurnya. Bukan berarti saya setuju dengan aksi anarkis begini, ya. Tapi zaman dulu memang perselisihan diselesaikan dengan cara begitu, bukan dengan cyberbullying rame-rame seperti sekarang.

Soal dialognya yang ngawur, sepertinya ini memang ciri khas Pidi Baiq. Saya belum pernah baca buku-bukunya yang lain. Tapi baca deskripsi penulisnya saja sudah ketahuan kalau dia sama koplaknya dengan si Dilan.

Pidi Baiq. Photo Credit: Goodreads

Pidi Baiq.   Photo Credit: Goodreads

Imigran dari sorga, diselundupkan ke bumi oleh ayahku yang tegang di kamar pengantin.
Imam Besar The Panasdalam.
Pernah lapar, pernah ngantuk, tapi alhamdulillah semuanya bisa diatasi.
Tidak suka jus rumput.

Buat yang pingin ketawa-ketawa nggak jelas bolehlah dicoba baca buku ini. Ada sekuelnya juga, lho. Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 dan Milea: Suara Dari Dilan.

Great Expectations (1998), Modern Retelling yang Setengah Hati Dari Karya Charles Dickens 

Great Expectations (1998). Photo credit: Mesh The Movie Freak

Great Expectations (1998). Photo credit: Mesh The Movie Freak

Ada yang sudah nonton Great Expectations-nya Ethan Hawke sama Gwyneth Paltrow? Bukan film baru sih. Ini modern retelling novella-nya Charles Dickens yang rilis di tahun 1998. Saya sendiri belum baca bukunya sampai kelar, baru satu bab dan itu pun waktu zaman kuliah. Tapi gara-gara nostalgia nonton video klip Wishful Thinking (OST. Great Expectations) saya jadi tergerak buat nonton filmnya.

Jadi, Great Expectations versi 1998 ini dibuka dengan adegan Finn, bocah lelaki kurang mampu yang ‘dengan terpaksa’ menyelamatkan seorang buronan berbahaya dari kejaran polisi. Beberapa lama kemudian, Finn diminta untuk datang ke mansion Miss Dinsmoor, seorang wanita kaya nan eksentrik di daerahnya. Miss Dinsmoor mengalami gangguan mental setelah ditinggalkan calon suaminya di altar. Miss Dinsmoor punya keponakan bernama Estella. Bocah cantik ini punya sifat flirty sekaligus dingin, bikin Finn jatuh cinta pada pandangan pertama (Ide adegan first kiss-nya lumayan juga). Finn lalu rutin dipanggil ke mansion untuk menghibur Dinsmoor dan menemani Estella bermain. Continue reading

Kissing Frog in Cyberspace: Sebuah Memoir Kocak Dari Pemburu Cinta di Dunia Maya

Kissing Frog in Cyberspace. Photo credit: Goodreads

Kissing Frog in Cyberspace. Photo credit: Goodreads

Judul: Kissing Frog in Cyberspace
Penulis: Dianne Sweeney
Bahasa: Indonesia
Format: paperback, 216 hal.
Penerbit: Gradien Mediatama (2009)
Genre: chicklit, memoir (sort of)

Di tengah kemudahan online di mana-mana dan serbuan Internet hingga ke ruang-ruang pribadi, tidaklah mengejutkan bahwa website yang dibuat khusus untuk urusan perkencannan, kian semarak.

Kisah ini bercerita tentang pencarian cinta melalui teknologi abad 21. Anda akan dibawa menempuh perjalanan mencari cinta sejati yang diwarnai dengan kelucuan, kesenalan, kesedihan, kesenangan, dan kegemasan.

Apabila Anda ingin menyelami lebih dalam atau sekadar ingin mengetahui proses lika-liku pencarian jodoh melalui Internet, kisah ini akan membuka segalanya.

Level of Interest

My Review

Kayaknya buku ini sering dikategorikan sebagai chicklit. Tapi beda dengan chicklit yang sempat hits di Indonesia seperti Bridget Jones’s Diary, In Her Shoes, Can You Keep a Secret?, dan Jemima J, chicklit yang ini lebih mirip sama Anak Kos Dodol atau My Stupid Boss. Isinya curhatan si penulis tentang suka dukanya berburu cinta di dunia maya. Saya sebut berburu karena ini mbak-mbak 30 something memang aktif sekali di situs-situs online dating. Dia sampai jadi member beberapa beberapa situs sekaligus. Dalam sebulan bisa kopdar beberapa kali dan sayangnya, sampai buku tamat masih belum ketemu pangeran impian.

Ilustrasi online dating. Photo credit: Digital Trends

Ilustrasi online dating.  Photo credit: Digital Trends

Biasanya saya nggak terlalu hobi baca buku seperti ini. Tapi harus saya akui kalau buku ini memang kocak. Pria-pria yang ditemui Dianne di dunia maya memang ‘ajaib’. Ada yang cabulnya kelewatan, seksis, dekil, anak papa, bahkan ada yang sudah beristri. Yang biasa-biasa tapi nggak membangkitkan chemistry juga nggak kurang. Cerita Dianne tentang mereka benar-benar bisa bikin saya ngakak.

Sedikit banyak saya bisa mengerti ‘deritanya’ Dianne menjadi perempuan lajang di usia gawat. Soalnya saya sendiri juga begitu. Sebenarnya perempuan-perempuan seperti kami ini nggak merasa usia kami sudah di ujung tanduk. Sadar kalau pilihan semakin sedikit dan jam biologis terus bergerak memang iya. Tetapi sebenarnya kami nggak akan stres karena belum menikah atau belum punya pasangan kalau lingkungan sekitar nggak segitu ribut dengan kelajangan kami. Jadi curcol… 😀

Buku ini lumayan buat hiburan di kala senggang. Cocok buat bacaan ringan di perjalanan. Tebalnya juga cuma 200-an halaman dengan font gede. Beneran enteng buat dibawa-bawa dan dibaca.

Dan pada akhirnya, bacaan super ringan ini masih tetap memberikan pelajaran berharga  bagi para lajang yang sedang mencari cinta, entah itu di dunia maya atau di dunia nyata. Seperti kata Gigi (Gynnifer Goodwin) di He’s Just Not That Into You:

Sometimes we’re so focused on finding our happy ending we don’t learn how to read the signs
How to tell from the ones who want us and the ones who don’t, the ones who will stay and the ones who will leave
And maybe a happy ending doesn’t include a guy
Maybe… it’s you, on your own, picking up the pieces and starting over
Freeing yourself up for something better in the future
Maybe the happy ending is… just… moving on
Or maybe the happy ending is this, knowing after all the unreturned phone calls, broken-hearts, through the blunders and misread signals, through all the pain and embarrassment…
You never gave up hope.

Never give up hope till we kiss a frog that turns into prince, not a prince who turns into frog, ladies..

Simple Bread Tart Hasil Nyontek Dari Manga Hanamaru’s Kitchen

Bread tart.

Setelah iseng mencoba resep omuraisu dari manga Delicious!, beberapa bulan kemudian saya mempraktikkan resep bread tart sederhana dari manga Hanamaru’s Kitchen. Sebenarnya praktik memasaknya sudah cukup lama, tahun 2015 lalu. Tetapi saya baru kepikiran untuk share resepnya di sini.

Bread tart buatan saya memang bentuknya acakadut. Tetapi masih mengikuti sebagian besar resepnya, kok. Rasanya juga enak dan gampang dibuat. Jangan kuatir bentuknya bakal hancur kayak punya saya. Saat mempraktikkan resep ini saya memang sedang hemat bahan. Jadi nggak pakai roti tawar tanpa pinggiran. Topping-nya pun cuma pakai bahan-bahan yang ada di kulkas rumah. Dengan bahan-bahan yang lebih niat, saya yakin hasilnya bakal secantik bread tart di komik. Atau setidaknya seperti gambar di bawah ini. Continue reading

Questioning Everything! Kreativitas Di Dunia Yang Tidak Baik-baik Saja

Questioning Everything! Photo credit: Frita Ayu Sistyana P

Questioning Everything!        Photo credit: Frita Ayu Sistyana P

Judul: Questioning Everything! Kreativitas Di Dunia Yang Tidak Baik-baik Saja
Penulis: Tomi Wibisono & Soni Triantoro (editor)
Bahasa: Indonesia
Format: Paperback 358 hal.
Penerbit: Warning Books, INSISTPress, & Pojok Cerpen (2016)

“Buku yang ada di tangan Anda ini merupakan hasil rakitan dari rangkaian wawancara awak majalah WARN!NG dengan 27 tokoh, yang oleh buku ini dijuluki “insan-insan kreatif.” Para tokoh itu berasal dari medan kreativitas yang beragam: lima penulis; enam belas musisi; empat sutradara film; dan dua perupa. Pendeknya, mereka yang sehari-hari bergumul dengan kreativitas atau proses penciptaan. Mereka juga berasal dari kota yang berbeda, antara lain Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar dan sebagainya. Bahkan, beberapa narasumber berasal dari dari mancanegara: Inggris, Perancis dan Amerika. Pilihan para narasumber itu tak bisa dilepaskan dari karakter WARN!NG yang banyak mengulas soal musik, film, buku dan isu sosial serta politik.

-Dr. Budi Irawanto, Dosen Ilmu Komunikasi UGM & Direktur Jogja Asian-Netpac Film Festival (JAFF)

Level of Interest

My Review

Buku ini berisi kumpulan wawancara terbaik yang terbit di majalah Warning! Obrolan-obrolan mencengangkan, membuka mata, sampai yang menginspirasi ada di sini. Saya belum pernah baca satu edisi pun Warning! (kudet memang), jadi lumayan kaget saat membaca bagaimana blak-blakannya hasil wawancara yang diramu dua editornya di buku ini.

Kumpulan wawancara ini menampilkan para seniman yang terkenal kontroversial, anti-mainstream, dan kritis macam Remy Silado, Nia DiNata, Puthut EA, dan Jerinx SID. Sedikit aneh bagi saya adalah nama Sheila On 7 yang terselip di antara band-band seperti Begundal Lowokwaru dan Banda Neira. Pikir saya, apanya Sheila yang anti-mainstream? Belakangan saya baru tahu kalau band ini sudah hijrah ke jalur indie. Wawancara dengan Adam, personel sekaligus manajer Sheila On 7 ini malah jadi salah satu yang paling berkesan buat saya di buku ini. Begitu blak-blakan, tanpa polesan seperti wawancara televisi dan majalah pada umumnya.

Continue reading

Zaman Dulu, Kutukan Mematikan Dipakai Untuk Lindungi Manuskrip Berharga

Kutukan di dalam buku kuno

Kutukan di dalam buku kuno.   Photo credit: Brien Beidler

Di zaman modern begini, ada banyak cara untuk melindungi koleksi perpustakaan yang berharga. Misalnya dengan memasang CCTV untuk memantau aktivitas pengunjung perpustakaan. Manuskrip berharga bisa disimpan di brankas khusus dengan kunci ber-password dan terlindung dari paparan cuaca yang bisa merusak. Tapi bagaimana cara orang-orang zaman dulu melindungi buku, lembar manuskrip, dan tablet dari pencurian?

Sampai beberapa abad lalu , perpustakaan dengan buku yang diikat rantai masih banyak dijumpai. Tetapi jauh sebelum itu, para pustakawan menjaga buku dengan segel kutukan. Iya, kutukan. Sepertinya, waktu itu menuliskan kutukan pada halaman buku dianggap ampuh buat menghindari pencurian.

Seperti ini, lho contoh kutukan yang dituliskan di lembaran buku-buku kuno. Continue reading

Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870-1942

13637529

Rijsttafel.   Photo credit: Goodreads

Judul: Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870-1942
Penulis: Fadly Rahman
Bahasa: Indonesia
Format: Paperback 140 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2011)

Buku ini mengupas jejak rijsttafel hingga menjadi budaya makan kolonial Belanda yang paling mengemuka pada paruh kedua abad ke-19, bagaimana melalui rijsttafel pencitraan budaya makan ideal sebagaimana dikenal kini setidaknya mulai dibangun, juga cerita di balik rijsttafel yang terselip dalam karya-karya sastra kolonial, majalah rumah tangga kolonial, fotografi kolonial, hingga buku-buku resep masakan kolonial yang mampu membangun serta menampilkan imaji hidangan nasi yang dipadupadankan dengan seni penyajian gaya Eropa.

Level of Interest

My Review

Bisa dibilang, buku tipis ini cukup menyenangkan untuk dibaca, terutama buat mereka yang tertarik dengan sejarah kuliner. Saya sendiri melahap buku ini dalam setengah hari saja. Meskipun ada beberapa bahasan yang repetitif (kemungkinan untuk menekankan teori yang dikemukakan penulis), rincian sejarah rijsttafel dalam buku ini mudah dicerna dan bikin saya kepingin makan. Hehe… Selain itu, ada bibliografi lengkap dan resep menu rijsttafel dalam bahasa Belanda di bagian belakang buku. Sebenarnya, bibliografi dan resep ini memenuhi seperempat bagian buku sendiri.

Saya akan mencoba menceritakan kembali apa saja yang berhasil saya dapat setelah membaca buku ini. Sebelum bicara panjang lebar tentang sejarah dan seluk beluk rijsttafel, tentunya kita harus tahu dulu apa itu rijsttafel. Sebenarnya ini adalah konsep jamuan makan ala penjajah yang diperkenalkan pada masa kolonial. Rijs artinya nasi, sementara ttafel berarti meja. Rijsttafel ini merupakan hasil dari akulturasi budaya Indonesia dan Belanda yang kemudian dikenal dengan nama kebudayaan Indis.

Macam-macam hidangan Indonesia dalam rijsttafel. Photo credit: Hedwig Studio

Macam-macam hidangan Indonesia dalam rijsttafel. Photo credit: Hedwig Studio

Meskipun disebut hasil akulturasi, sebenarnya masakan Indonesia jauh lebih dominan di sini. Soalnya, Belanda tidak memiliki tradisi kuliner sekuat Prancis, Italia, Inggris, China, atau Jepang. Masakan Indonesia dianggap lebih istimewa daripada masakan Belanda karena menggunakan bumbu-bumbu eksotis. Karena itulah mereka lantas mengadopsi warisan kuliner pribumi dan memadukannya dengan konsep jamuan pesta gaya Eropa. Continue reading

Apa kaitan Salvador Dali dan dunia kuliner?

Les Diners de Gala. Photo credit: Taschen

Les Diners de Gala.   Photo credit: Taschen

Kalau beberapa minggu lalu ada yang mengajukan pertanyaan di atas, saya pasti tak tahu jawabannya. Yang saya tahu selama ini, Dali adalah pelukis kondang dengan aliran surealisme.  Karya-karyanya absurd, seabsurd penampilan dan kepribadian pelukisnya yang eksentrik. Saya tidak akan pernah menduga kalau Dali adalah seorang pemerhati dunia kuliner. Sampai menulis buku resep masakan pula. Continue reading

Multi interpretasi di balik dongeng Little Red Riding Hood

Little Red Riding Hood meets the Big Bad Wolf in the Dark Forest. Photo credit: Pinterest

Little Red Riding Hood meets the Big Bad Wolf in the Dark Forest. Photo credit: Pinterest

Sejak masih kecil, saya selalu terpesona kepada dunia dongeng. Bagi saya, tak ada yang lebih magis daripada kerajaan bawah laut atau istana di balik hutan gelap berduri. Dan tentu saja, tak ada yang lebih romantis selain pangeran yang melewati segala rintangan untuk menyelamatkan sang putri. Meskipun saat itu saya belum mengerti benar apa itu romantis. Saya juga mencintai legenda-legenda Indonesia yang tak kalah magis dan kadang menyuguhkan nilai moral lebih dalam. Tetapi kalau dulu saya memuja Cinderella dan Putri Salju, di usia dewasa ini dongeng favorit saya justru Little Red Riding Hood.

Silakan menjajal Little Red Riding Hood klasik yang ditulis oleh Charles Perrault, Grimm Brothers, Italo Calvino, atau versi-versi lain yang lebih tua. Apalagi kalau kita membacanya tanpa ilustrasi imut dalam cergam anak-anak. Little Red Riding Hood klasik ini terasa lebih gelap. Beberapa bahkan sadis. Salah satunya versi yang menceritakan Big Bad Wolf menyisakan satu anggota tubuh sang nenek dan memaksa Red Riding Hood untuk memakannya mentah-mentah. Di beberapa versi, Red Riding Hood tewas tanpa ada pemburu baik hati yang menyelamatkannya. Continue reading

The Square Persimmon and Other Stories by Takashi Atoda

The Square Persimmon and Other Stories is an introduction to the work of Takashi Atoda, one of Japan’s most popular and versatile writers of fiction. His themes-first love, lost love, change, fate-are universal ones, but his characters and settings are Japanese.

The Square Persimmon. Photo credit: Goodreads

The Square Persimmon. Photo credit: Goodreads

Judul: The Square Persimmon and Other Stories
Penulis: Takashi Atoda
Bahasa: Inggris
Format: Hardcover, 208 hal.
Penerbit: Tuttle Publishing (1990)
Genre: Kumpulan cerpen (short stories), sastra Jepang (Japanese literature)

4 Points for:

check signStory

check signSetting

check signCharacterization

check signWriting style

Moral/interesting trivia

Level of Interest

My Review

Sebelumnya, harap maklum kalau saya lumayan banyak ngelantur dalam ulasan kali ini. Rasanya susah untuk menahan diri karena mengulas buku ini turut menghadirkan nostalgia buat saya. Continue reading

Life and Death, a ‘not so interesting’ reimagination of Twilight

Twilight - Life and Death. Photo credit: Goodreads

Twilight – Life and Death. Photo credit: Goodreads

Judul: Life and Death: Twilight Reimagined (Twilight #1.75)
Penulis: Stephenie Meyer
Bahasa: Inggris
Format: Ebook (EPUB), 470 hal.
Penerbit:  (2014, first published 2010)
Genre: Drama, realistic fiction, kuliner

Cerita

Taken from Hollywood Reporter’s review:

Stephenie Meyer just released a surprising new novel, Life and Death: Twilight Reimagined, that swaps all of the genders inTwilight.

Throughout the beginning of the new storyline she adjusts a few scenes that stray from the original book.

This change also does not mean that I prefer it to the original or think that the original was ‘wrong,’ ” writes Meyer. “This has always just been the big ‘What if?’ and I wanted to see what it would feel like if Twilight had been the end of the story. If, like Beau, Bella had left the airport just five minutes earlier.”

1 Point for:

cross signStory

cross signSetting

check signCharacterization

cross signWriting style

cross signMoral/interesting trivia

Level of Interest

My Review

Sebagai seorang pembaca, kadang-kadang saya ingin membaca sesuatu yang sedang hits. Alasan itulah yang membuat saya tergerak untuk membaca Life and Death, meskipun saya tidak benar-benar menikmati Twilight, versi orisinal dari buku ini. Continue reading

​Dan saya baru tahu Saddam Husein menulis roman

Zabibah and The King. Photo credit: Messynessychic.com

Zabibah and The King. Photo credit: Messynessychic.com

Mungkin saya ini ndeso, tapi saya memang baru tahu kalau alm. Saddam Husein menulis novel. Tidak hanya satu, tapi enam. Dan bagi saya ini lumayan aneh. Pemimpin negara menulis buku sudah biasa. Bahkan menggubah puisi atau mengarang lagu pun masih lumrah. Toh presiden-presiden kita melakukan hal yang sama. Tapi seorang diktator dengan image garang dari Timur Tengah menulis novel itu agak luar biasa, terutama karena novel yang ditulis salah satunya bergenre roman. Continue reading

The Hundred-Foot Journey: Kisah tentang Cinta, Cita Rasa, dan Selera

The Hundred-Foot Journey. Photo credit: Goodreads

The Hundred-Foot Journey. Photo credit: Goodreads

Judul: The Hundred-Foot Journey: Kisah Tentang Cinta, Cita Rasa, dan Selera
Penulis: Richard C. Morais
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Qanita (2014, first published 2010)
Genre: Drama, realistic fiction, kuliner
Harga: Rp 15.000 (book fair Perpustakaan Kab. Semarang)

Cerita

Synopsis taken from Goodreads

Hassan Haji tak menyangka dia akan menjadi koki masakan Prancis nomor 1. Kesan pertamanya terhadap masakan Prancis adalah hambar dan tak mengundang selera. Jauh beda dengan masakan India yang kaya rasa dan warna seperti yang diajarkan ayahnya. Namun, kecintaannya terhadap seni memasak membuatnya bertekad menguasai masakan yang dianggap sebagai raja gastronomi dunia.

Hassan Haji pun menyeberangi jalan menuju Restoran Le Saule Pleureur yang menyajikan fine dining ala Prancis. Siapa sangka perjalanan yang hanya seratus langkah ini memunculkan begitu banyak masalah? Hassan dianggap pengkhianat tradisi keluarga karena belajar memasak kepada Madame Mallory, musuh bebuyutan restoran keluarganya. Madame Mallory menghina masakan India sebagai masakan norak dan tak berbudaya. Meski diremehkan oleh sang guru masak sendiri, Hassan Haji berhasil membuktikan bahwa seni memasak tidaklah tentang bangsa maupun keluarga, tetapi tentang hati. Di tengah perang kuliner antara restoran keluarganya dan restoran Prancis elegan milik Madame Mallory, Hassan Haji menunjukkan kepada mereka semua inti dari seni memasak. Continue reading

Waking Olivia by Elizabeth O’Roark: When the past force you to run (literally) forever

Waking Olivia.

Photo credit: Goodreads

Judul: Waking Olivia
Penulis: Elizabeth O’Roark
Bahasa: Inggris
Format: Ebook (ACSM)
Penerbit: Elizabeth O’Roark (2016)
Genre: Contemporary romance, drama, realistic fiction, New Adult
Harga: free (via advanced reader copy Netgalley)

Cerita

Synopsis taken from Goodreads

A failing farm.
His father’s debt.
And a struggling college track team.
Will Langstrom has too many responsibilities, and the last thing he needs is Olivia Finnegan, a beautiful but troubled new transfer student.

A smart mouth.
A strong right hook.
And a secret that could destroy her.
Olivia is her own worst enemy, with a past she can’t seem to escape, and the last person she wants help from is a cocky track coach she can never seem to please.
Refusing to be pushed away, Will is determined to save her.
And determined to resist an attraction that could destroy them both.

Continue reading

Matinya Seorang Penari Telanjang: Bukan buku porno, cuma kumpulan cerpen satir

Matinya Seorang Penari Telanjang.

Matinya Seorang Penari Telanjang. Photo credit: Goodreads

Judul: Matinya Seorang Penari Telanjang
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Bahasa: Indonesia
Format: paperback, 250 hal.
Penerbit: Galang Press (2000)
Genre: kumpulan cerpen

Cerita

Tentang Sila, seorang penari telanjang yang jadi primadona di klub tempatnya bekerja. Sila bukan perempuan malam biasa. Dia bisa saja menjadi balerina di Bolshoi Theatre atau salah satu penari di keraton. Tetapi Sila lebih memilih jadi seorang penari erotis dan menjadi simpanan para pembesar yang terpukau kepada sosoknya.

Malam ini Sila akan meninggalkan dunia. Nyawanya akan segera berakhir di tangan dua pembunuh bayaran yang menguntitnya sejak beberapa jam lalu. Sebenarnya Sila tak keberatan mati. Pada akhirnya semua orang juga bakal mati. Satu-satunya yang ingin Sila ketahui sebelum ajal menjemput cuma satu. Siapa yang begitu dendam hingga ingin melenyapkan dirinya?

Continue reading